Prosentasi perbedaan manusia dan hewan tertentu terbilang cukup tipis. Dengan kera perbedaan secara genetika sekitar 7%, orang utan sekitar 3%, dan gorilla sebesar 2%. dengan Simpanse & Banobo malah kemiripannya kurang dari 2% tepatnya 1,2% saja. Ketika ngopi santai di Solo, Opa mengajak Komunitas SKK memberi makna pada kecilnya prosentasi 2% yang menjadikan kita manusia.
2% MENUJU MANUSIA
Ciptaan lain selain manusia baik tumbuhan maupun hewan diciptakan untuk menjadi bagian total dari alam. Karena menjadi bagian total dari alam maka apa pun yang dilakukan sebatas naluri alam dan relasi mereka umumnya terhubung dengan alam. Manusia juga berelasi dengan alam karenanya ada sisi kesamaan dengan ciptaan lain itu. Kemiripan dalam relasi dengan alam sangatlah besar. Dan yang membedakan manusia dengan ciptaan lain sangatlah kecil dan itulah yang harus dibina. Jadi yang harus dibina manusia adalah relasi dengan yang spirit yang tidak bisa dilakukan oleh ciptaan lain. Relasi dengan spirit itulah yang menjadikan kita manusia.
Secara biologis, yang menjadikan kita manusia itu hanya 2%. 2% itulah spirit dan bagaimana relasi dengan spirit itulah yang bisa mengalahkan 98% kesamaan dengan ciptaan lain. Meskipun hanya 2%, namun kekuatan spirit yang hanya 2% itu sanggup mengalahkan 98%. 2% ini akan menjadi kekuatan untuk menjadi manusia kalau kita berelasi dengan Tuhan. Jadi misalnya saja, ketika orang tua mencintai anak, atau oma dengan cucu, terpancar jelas bahwa ada relasi dengan spirit tetapi bapa mama atau opa oma lebih kuat relasi dengan alam yang mengandalkan tubuh. Jika yang diandalkan itu spirit, misalnya melalui doa dan jawaban doa mengatakan bahwa biarkan mereka mengurus diri mereka sendiri, maka tugas kita memfasilitasi agar mereka lebih optimal mengurus diri mereka sendiri. Harus terus ditanamkan bahwa urusan Tuhanlah yang utama terhadap hidup mereka. Bahwa kita punya tanggung jawab tetapi yang paling bertanggung jawab adalah Sang Pemilik itu sendiri. Sebagian tentu saja masih menjadi bagian kita karena kita masih memiliki tanggung jawab itu. Ketika semakin berumur dan semakin mencampuri banyak hal maka yang kita panen adalah kelelahan. Ketika fisik sudah tidak sanggup lagi sebenarnya itu ajakan dan undangan untuk mengutamakan yang spirit misalnya melalui doa. Jika kita tetap pakai otak, belum tentu pas dan hasilnya bisa jadi mengecewakan. Orang yang merancang mesin sekalipun bukan hanya otak yang bekerja, selalu ada ruang spirit misalnya melalui ilham. Kombinasi ini menjadikan otak bekerja baik hingga mesin yang rusak sekalipun bisa diperbaiki bahkan menjadi lebih baik lagi. Jika kita mengambil sikap seperti burung, bisa saja, tetapi burung menggunakan sayap sedangkan kita tidak. Memang menurut teori evolusi sebenarnya tangan itu dulunya sayap, nah sekarang bagaimana kita menjadikan tangan yang sekarang berfungsi seperti atau bahkan melebihi sayap. Kita memproteksi mereka dengan spirit di ujung jari ada C I N T A K A S I H. Kita pun bisa lebih menghibur dari pada sekedar nyanyian burung, dan sebenarnya peran kita membesarkan anak dan cucu haruslah melalui sukacita yang melebihi merdunya kicauan burung. Kita janganlah bertindak lebih pada menakut-nakuti mereka dengan membangun kecemasan, melainkan menumbuhkan sukacita karena sukacita itu ukuran spirit, ukuran roh. Bahkan salah satu buah dari roh adalah sukacita dan buah itulah yang menjadikan anak cucu kita lebih maksimal perkembangannya. Untuk orang Kristen sebenarnya ukurannya sudah jelas yang sudah sering Opa ingatkan yaitu Buah Roh. Tugas sayap kita jika dibandingkan dengan burung adalah mengepakkan sukacita, dan mulut kita melantunkan suara harapan.
Ketika kita bandingkan cara kita dengan dokter, dokter memang benar ketika mengatakan ini berbahaya, ini bisa berakibat fatal, karena ilmunya memang ilmu tubuh, yang bisa mati menurut ukuran ilmunya tentang tubuh berhubungan dengan anatomi. Ilmu kita, yang kita jalani dan hidupi sekarang bersama Komunitas SKK adalah ilmu spiritual. contoh Jalani saja dulu, terima saja dulu, aman, inilah beberapa kalimat jawaban Opa yang membangun harapan, inilah ilmu spiritual. Inilah bedanya ilmu spiritual dan ilmu tubuh. Ilmu spiritual inilah yang menjadikan manusia itu manusia. Dan inilah 2% itu, 2% yang menahkodai 98%, jelaslah 2% spirit yang mengatur dan mengelola 98% tubuh. 98% itu tubuh yang akan mengalami kehancuran, kematian, 2% itu ilmu spirit yang sebagaimana roh bersifat abadi. Sebenarnya yang mengelola 98% tubuh kita adalah otak bagian bawah dan 2% spirit itu oleh otak spiritual bagian atas. Jika membaca brain stem maka kita menemukan otak yang berbicara tentang hidup. Karena itu ia sangat responsive ketika ada bahaya. Kemudian naik lagi ke system limbik bagian agak tengah dari otak berbicara tentang hidup enak. Karena hidup hanya sekali maka diupayakan hidup seenak mungkin. Jelaslah sekarang bagi orang yang hanya mengandalkan dua otak bagian bawah itu hanya akan berkutat pada hidup dan hidup enak, apalagi dengan kampanye bahwa hidup ini hanya sekali jadi nikmatilah seenak mungkin. Kalau otak bagian atas berbicara bagaimana hidup itu bermakna karena tujuan kita ada di dunia ini adalah membuat bumi ini bermakna dan menyenangkan bagi semua orang. Kita istimewah hanya saja dunia sekarang ini lebih sibuk belajar tentang tubuh. Diskusi hidup hanyalah tentang tubuh. Contoh kita, ketika hendak berbuka disiapkan makanan begitu banyak tetapi kita karena konsentrasi tidak di tubuh dan enak maka yang kita makan tetap yang bermakna pilihannya bukan enaknya. Kita berkonsentrasi pada kebaikan, kebenaran dan sukacita. Dengan berbagai pertemuan sekecil apa pun, buah roh semakin menjadi nyata dan hidup. Pertemuan kita bukanlah pertemuan tubuh melainkan pertemuan kita adalah pertemuan spiritual yang membesarkan buah-buah roh. Mari kita terus membangun spirit yang abadi sifatnya dengan sayap yang mengepakan kebaikan, sukacita dan kasih dan mulut yang mendendangkan harapan serta menjadikan nyata buah-buah roh dalam setiap pertemuan kita.
TEAMBHSKOCARKACIRSKK. direkam oleh Rian Taga dan ditulis oleh Niko Boleng.
Comments
Post a Comment