Ketenangan dan keheningan hidup seperti menjadi hal langkah di jaman kita dewasa ini. Keributan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Keributan baik dari luar maupun dari dalam sangatlah melelahkan dan mengganggu. Opa dalam BHS di TDM sore ini mendorong Komunitas SKK untuk menghadirkan keheningan walaupun dilingkupi keributan.
MERAJAI KEHENINGAN
Keributan dari sumbernya bisa berasal dari luar maupun dari dalam diri sendiri.
Dari luar keributan dan kekacauan menjadi lebih terasa sekarang karena informasi dari luar sudah menjangkau orang per orang. Telepon genggam seolah menggenggam seluruh hidup kita. Keributan dan kekacauan di belahan dunia lain bahkan menjadi bagian dari masalah kita. Keributan, selain dari luar sumbernya ada juga yang dari dalam diri sendiri, berupa ketakutan, kegelisahan, berpikir tentang hal-hal buruk, dan berbagai kondisi minor lainnya. Keributan dalam diri ini sangat tidak nyaman, melelahkan malah bisa berakibat kita tidak bisa tidur bahkan bisa berujung sakit. Terhadap dua sumber keributan ini, Opa melalui BHS SKK mendorong kita untuk mengambil sikap yang tepat. Bahwa sumber keributan dari luar tidak mungkin kita atur, kecuali kita memiliki kewenangan dan kuasa yang sangat kuat. Yang bisa kita atur dan kelola adalah diri kita sendiri. Kita bisa menjadi raja yang menguasai wilayah diri sendiri. Inilah bagian yang bisa kita kelola dan atur. Menjadi raja atas keheningan diri inilah bagian yang harus kita perkuat. Dari pada memikirkan keributan dari luar yang tidak mungkin kita atur, Opa terus mendorong kita merajai keheningan dalam diri. Sebagaimana kita teruji setia menjaga racun tubuh, demikian pun dalam menghadapi keributan kita pun bisa membina kesetiaan diri agar kita mampu merajai keheningan diri tanpa terpengaruh kondisi apapun.
Untuk merajai keheningan diri, kita perlu membina beberapa sikap secara konsisten. Kita bisa mengendalikan keributan dalam diri, minimal bisa meredamnya. Keributan dan kegelisahan hidup bisa kita kendalikan dengan membina sikap (1) menerima diri. Banyak kegelisahan dan gangguan keheningan diri berawal dari ketidakmampuan menerima diri. Banyak yang gelisah karena tidak menerima kalau dirinya hitam, misalnya. Contoh lain, kita tidak bisa memilih orang tua yang melahirkan kita, yang bisa kita kelola adalah menerima mereka sebagai orang tua bagaimanapun keadaan mereka. Ada juga sesama kita yang mengalami keributan dan kegelisahan diri karena menolak karunia khusus diri. Banyak yang dianugerahi mata yang bisa melihat lebih dari orang kebanyakan menjadi gelisah karena menolak karunia ini. Membina sikap menerima ini akan sangat membantu kita meredam keributan dan kekacauan dalam diri. Ketika orang menceritakan keburukan kita sekalipun, kita tidak perlu reaktif karena justeru memancing keributan lain lagi. Sikap baik dan tepat yang perlu kita bangun adalah menerimanya. Yang menceritakan keburukan kita justeru baik, karena dia berkonsentrasi pada hal buruk yang luput dari perhatian kita sehingga dengan dan melaluinya kita bisa berkembang lebih baik dan kualitas hidup kita meningkat. Kita akhirnya mampu memperbaiki yang kurang sehingga tidak ada lagi cerita buruk tentang kita. Jika orang itu hanya mengarang keburukan kita sekalipun sikap yang tepat adalah menerimanya sehingga bisa saja dengan demikian keburukan kita ke depannya bisa kita atasi dari sekarang. Jika dia berkeinginan agar kita menderita karena cerita keburukan tentang kita, justeru yang dia dapatkan adalah dia sendiri yang menderita karena reaksi penerimaan kita yang tepat. Kita yang diharapkan menderita karena cerita buruk tentang kita justeru menjadi bersukacita karena kita membina sikap yang baik dan tepat dan tidak reaktif. Kita dengan demikian tertawa karena berhasil meningkatkan kualitas diri sementara dia yang bercerita buruk justeru memanen kesedihan karena gagal misinya membuat kita menderita. Sikap berikut yang paling produktif dan paling Opa anjurkan untuk merajai keheningan hidup adalah (2) sibuk dan bertekun dalam berbuat kebaikan. Berbuat sesuatu yang baik dan akhirnya otak terisi hal-hal baik bahkan terus mengendap dalam alam bawah sadar sehingga yang lahir dalam bentuk perilaku hidup adalah yang baik saja. Hidup ibarat ladang dengan pikiran terisi hal-hal baik dan jiwa yang ternutrisi seimbang maka hidup bagaikan ladang yang menumbuhkan benih-benih baik untuk kehidupan. Semua ini didapatkan bukan dalam keributan dan kekacauan hidup melainkan dalam keheningan hidup. Maka jika kita berhasil menjadikan hidup kita adalah raja terlebih dalam keheningan hidup maka kita tidak saja memberi kualitas lebih pada hidup sendiri melainkan juga memberi makna bagi sesama. Sikap hidup yang baik ini juga melahirkan sikap (3) percaya diri . Percaya diri hadir karena kita sudah membina hidup dengan berbagai hal baik. Kepercayaan diri lahir karena kebaikan hidup dan karenanya rasa percaya diri selalu diikuti dengan kepercayaan orang lain kepada kita. Dan secara spiritual kita bahkan menjadi kepercayaan Tuhan karena kebaikan hidup yang terus kita bina. Mari terus membina kebaikan hidup dan menjadi raja atas keheningan dan ketenangan hidup karena dari sanalah lahir hidup yang berkualitas mulia.
TEAMBHSKOCARKACIRSKK. By. Niko Boleng.
Comments
Post a Comment