Sebagaimana yang kita baca dalam kisah penciptaan pada Alkitab, manusia diciptakan tidak hanya melalui Firman Tuhan dengan rumusan berbeda tetapi juga dengan proses yang berbeda dari makhluk ciptaan yang lain. Ini menunjukan kemuliaan manusia sebagai ciptaan. Kemuliaan manusia sebagai ciptaan sejatinya juga dalam waktu yang sama membawa misi mulia yang diembannya. Sambil menikmati kopi di Café Mekon Indah setelah kuliah umum bertema Brain Rot, Opa menyampaikan beberapa pesan penting untuk Komunitas SKK.
KEMULIAAN CIPTAAN SEBAGAI IMAGO DEI
Berfirmanlah Allah, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Kata-kata ini menunjukan betapa mulianya manusia. Mulianya manusia tidak hanya berhenti pada FirmanNya, melainkan kemuliaan ini diperteguh dengan Allah menghembuskan RohNya sendiri kepada manusia. Manusia sungguh mulia karena menjadi Imago Dei, menjadi Citra Allah. Dengan dan melalui kenyataan ini maka jelaslah bahwa tidak ada manusia yang buruk karena semua manusia mulia. Ini juga membawa pesan bahwa ada kekuatan yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk hidup menurut Ukuran Allah karena Allah sendirilah yang mendukungnya. Sayangnya kenyataan ini kurang menjadi perhatian, kita lebih memberi perhatian pada unsur insani kita yang rapuh dan yang mudah jatuh ke dalam dosa. Kita terus membebani dan menerima diri sebagai tidak layak di hadapan Tuhan. Kita hidup dalam pesimisme dan mengabaikan optimisme yang menjadi ciri orang berpengharapan pada Tuhan. Kita melupakan adanya kekuatan ilahi yang ada dalam diri kita dan memampukan kita untuk hidup menurut Ukuran Allah. Bahkan ketika berkali-kali kita jatuh pun kita tetap berharga, kita tetap mulia di hadapan Allah. Agar martabat kita tetap mulia, maka Allah mengutus para Nabi menarik kita kembali untuk hidup menurut ukuran Allah. Kemuliaan kita sebagai manusia sejatinya tidak hilang hanya tertutup karena dosa kita. Dosa itu sama dengan menutup diri dari rahmat Allah. Bahkan Allah rela mengutus Puteranya Yesus untuk mengangkat kemuliaan martabat kita sebagai manusia. Allah selalu menghadirkan diri mengangkat martabat dan kemuliaan kita. Allah setiap saat berbisik kepada kita melalui suara hati kita dan melalui berbagai pengalaman kita. Ini sudah ditegaskan dalam Injil Yohanes 15:4 bahwa tinggalah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Allah menyampaikan dari dalam diri kita sendiri. Ketika kita melihat dan terpesona dengan kehebatan orang lain, sebenarnya Allah dalam diri kita sedang menyampaikan bahwa kamu bisa sehebat dia. Belajarlah yang sungguh maka kamu pun bisa sehebat mereka. Ini bisikan Allah langsung dari dalam diri kita.
MEMBINA DIRI SEBAGAI GAMBAR ALLAH
Manusia telah diangkat Tuhan menjadi begitu mulia bahkan menjadikannya sebagai GambarNya sendiri, sebagai Imago Dei. Selanjutnya Misi kita adalah terus membina diri sebagai Imago Dei, sebagai Citra Allah. Kita membina diri terlebih dengan memperkuat nutrisi jiwa, karena jiwalah yang menjadikan kita Citra Allah yang bercahaya. Setan tidak pernah sanggup melawan manusia yang membina jiwa dengan baik. Setan hanya bisa menggoda dan menjebak manusia melalui fisik melalui kedagingan kita. Ketika kita terjebak oleh setan maka yang kita cari adalah yang enak, yang sedap dipandang dan ukuran fisik lainnya. Yesus pun digoda melalui godaan fisik, setan mengira setelah berpuasa pasti lapar dan akan mudah tergoda jika diminta mengubah batu menjadi roti. Ketika sangat lapar maka kehadiran roti akan sangat menggoda, setan keliru karena Yesus berjiwa mulia bahwa manusia tidak hidup hanya dari roti saja melainkan dari semua firman yang keluar dari Tuhan. Hawa di Taman Eden juga tergoda melalui buah, makanan fisik juga. Opa kembali menegaskan untuk berhati-hati jika kita sudah berkonsentrasi pada tubuh karena akan dengan mudah terjebak oleh godaan setan. Setan akan dengan leluasa bermain di area ini. Dunia sudah sangat terjebak ke dalam konsentrasi pada tubuh. Makanan yang dicari yang enak, yang sedap dipandang dan berbagai daya tarik fisik lainnya. Dan setelah terjebak ke dalamnya maka yang kita panen adalah sakit dan pasti menderita. Kalau ke Rumah Sakit maka diri kita sepenuhnya diatur Rumah Sakit. Bersusah payah kita berjuang membanting tulang bukan saja untuk hidup tetapi juga membayar Rumah Sakit. Inilah hasilnya jika kita terjebak pada daya tarik tubuh, fisik dan bukan pada jiwa. Sebagai Imago Dei akan redup kemuliaan kita ketika kita termakan jebakan setan untuk berkonsentrasi pada yang fisik. Opa melalui berbagai kesempatan bersama Komunitas SKK terus mengajak kita memurnikan jiwa agar cahaya Imago Dei kita bersinar dan percayalah bahwa setan tidak akan sanggup mengalahkan jiwa yang murni dan teguh. Jiwa yang murni akan terus mencari dulu yang mulia, yang berhubungan dengan Kerajaan Allah karena yang lain akan ditambahkan. Inilah misi mulia manusia sang Imago Dei. Apakah misi ini sulit bagi kita? Tentu Jawabannya adalah tidak karena Allah yang sangat berkepentingan mengangkat mulianya martabat kita. Allah yang berkepentingan kita sukses dan masuk surga. Analoginya sederhana bahwa orangtualah yang berkepentingan anak-anak nya sukses. Orang tua memberi berbagai tips agar anaknya sukses. Anak yang penurut sudah pasti sukses. Demikianlah Allah, Allah yang berkepentingan agar manusia sukses dan masuk surga. Mari terus saling mendukung untuk menjaga mulianya martabat kita sebagai Imago Dei dengan mendandani jiwa bukan tubuh.
TEAMBHSKOCARKACIRSKK. By Niko Boleng.
Comments
Post a Comment