Skip to main content

IMAGO DEI: ANTARA KEMULIAAN CIPTAAN DAN MISI MULIA -Café Mekon Indah - 10 Januari 2026

Sebagaimana yang   kita baca   dalam   kisah penciptaan   pada   Alkitab, manusia  diciptakan   tidak hanya   melalui Firman Tuhan   dengan   rumusan berbeda   tetapi   juga dengan proses yang berbeda   dari   makhluk ciptaan yang lain.   Ini   menunjukan kemuliaan manusia sebagai ciptaan.     Kemuliaan manusia sebagai ciptaan   sejatinya   juga dalam waktu yang sama    membawa   misi mulia yang diembannya.       Sambil menikmati kopi di Café Mekon Indah     setelah     kuliah umum bertema Brain Rot,       Opa menyampaikan beberapa pesan penting   untuk   Komunitas SKK.   


  KEMULIAAN CIPTAAN SEBAGAI IMAGO DEI  


  Berfirmanlah Allah,         “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar       dan       rupa Kita…”       Kata-kata   ini menunjukan betapa mulianya manusia.     Mulianya manusia   tidak hanya   berhenti pada FirmanNya,   melainkan   kemuliaan ini diperteguh   dengan   Allah menghembuskan RohNya sendiri kepada manusia.     Manusia sungguh mulia   karena   menjadi Imago Dei, menjadi Citra Allah.     Dengan   dan   melalui kenyataan ini   maka   jelaslah bahwa tidak ada manusia yang buruk   karena   semua manusia mulia.   Ini juga   membawa pesan   bahwa   ada kekuatan yang dianugerahkan Allah kepada manusia   untuk   hidup menurut Ukuran Allah   karena   Allah sendirilah yang mendukungnya.   Sayangnya   kenyataan ini kurang menjadi perhatian,   kita   lebih memberi perhatian pada unsur insani kita   yang   rapuh   dan   yang mudah jatuh ke dalam dosa.   Kita   terus membebani   dan   menerima diri   sebagai   tidak layak di hadapan Tuhan.     Kita hidup   dalam   pesimisme   dan   mengabaikan optimisme   yang   menjadi ciri orang berpengharapan   pada   Tuhan.   Kita   melupakan adanya kekuatan ilahi   yang   ada dalam diri kita   dan   memampukan kita   untuk   hidup menurut Ukuran Allah.   Bahkan   ketika berkali-kali kita jatuh   pun   kita tetap berharga, kita tetap mulia   di hadapan   Allah.   Agar   martabat kita tetap mulia,   maka   Allah mengutus para Nabi menarik kita kembali   untuk   hidup menurut ukuran Allah.     Kemuliaan kita   sebagai   manusia sejatinya tidak hilang   hanya   tertutup   karena   dosa kita.     Dosa   itu   sama dengan menutup diri   dari   rahmat Allah.   Bahkan   Allah   rela   mengutus Puteranya Yesus   untuk   mengangkat kemuliaan martabat kita   sebagai   manusia.     Allah   selalu   menghadirkan diri mengangkat martabat   dan   kemuliaan kita.     Allah   setiap saat   berbisik kepada kita   melalui   suara hati kita   dan   melalui berbagai pengalaman kita.   Ini   sudah ditegaskan dalam Injil Yohanes 15:4   bahwa   tinggalah di dalam Aku   dan   Aku di dalam kamu.     Allah   menyampaikan   dari dalam diri kita sendiri.   Ketika   kita melihat   dan   terpesona   dengan   kehebatan orang lain,   sebenarnya   Allah dalam diri kita sedang menyampaikan   bahwa   kamu bisa sehebat dia.   Belajarlah   yang sungguh   maka   kamu pun bisa sehebat mereka.   Ini   bisikan Allah langsung   dari   dalam diri kita.   


  MEMBINA DIRI SEBAGAI GAMBAR ALLAH  


  Manusia   telah   diangkat Tuhan menjadi begitu mulia   bahkan   menjadikannya   sebagai   GambarNya sendiri,   sebagai   Imago Dei.   Selanjutnya   Misi kita   adalah   terus membina diri   sebagai   Imago Dei,   sebagai   Citra Allah.   Kita   membina diri   terlebih   dengan memperkuat nutrisi jiwa,   karena   jiwalah   yang   menjadikan kita Citra Allah   yang   bercahaya.     Setan   tidak pernah   sanggup melawan manusia   yang   membina jiwa dengan baik.   Setan   hanya bisa menggoda   dan   menjebak manusia   melalui   fisik   melalui   kedagingan kita.   Ketika   kita terjebak oleh setan   maka   yang kita cari   adalah   yang enak, yang sedap dipandang   dan   ukuran fisik   lainnya.   Yesus pun digoda   melalui   godaan fisik,   setan mengira   setelah berpuasa pasti lapar   dan   akan mudah tergoda   jika   diminta mengubah batu   menjadi   roti.   Ketika   sangat lapar   maka   kehadiran roti akan sangat menggoda,     setan keliru   karena   Yesus berjiwa mulia   bahwa   manusia tidak hidup   hanya   dari roti saja   melainkan   dari semua firman   yang   keluar dari Tuhan.     Hawa   di   Taman Eden juga tergoda   melalui   buah, makanan fisik   juga.   Opa kembali menegaskan   untuk   berhati-hati   jika   kita sudah berkonsentrasi pada tubuh   karena   akan dengan mudah terjebak   oleh   godaan setan.     Setan   akan   dengan leluasa bermain di area ini.     Dunia   sudah   sangat terjebak ke dalam konsentrasi pada tubuh.     Makanan   yang dicari   yang enak, yang sedap dipandang   dan   berbagai daya tarik fisik lainnya.   Dan   setelah terjebak ke dalamnya   maka   yang kita panen   adalah   sakit   dan   pasti menderita.   Kalau   ke Rumah Sakit   maka   diri kita   sepenuhnya   diatur Rumah Sakit.   Bersusah payah   kita berjuang membanting tulang bukan saja untuk hidup   tetapi   juga membayar Rumah Sakit.   Inilah   hasilnya jika kita terjebak   pada   daya tarik tubuh, fisik   dan   bukan pada jiwa.   Sebagai   Imago Dei   akan redup    kemuliaan kita   ketika   kita termakan jebakan setan   untuk   berkonsentrasi pada yang fisik.     Opa   melalui   berbagai kesempatan bersama Komunitas SKK   terus   mengajak kita memurnikan jiwa   agar   cahaya Imago Dei kita bersinar   dan   percayalah   bahwa   setan tidak akan sanggup mengalahkan jiwa   yang   murni   dan   teguh.     Jiwa yang murni   akan   terus mencari dulu yang mulia, yang berhubungan   dengan   Kerajaan Allah   karena   yang lain akan ditambahkan.   Inilah   misi mulia manusia sang Imago Dei.   Apakah   misi ini sulit bagi kita?   Tentu   Jawabannya adalah tidak   karena   Allah   yang   sangat berkepentingan mengangkat mulianya martabat kita.     Allah   yang   berkepentingan kita sukses   dan   masuk surga.   Analoginya sederhana   bahwa orangtualah yang berkepentingan anak-anak nya sukses.   Orang tua   memberi berbagai tips   agar   anaknya sukses.     Anak   yang   penurut sudah pasti sukses.   Demikianlah Allah,   Allah yang berkepentingan   agar   manusia sukses   dan   masuk surga.   Mari   terus saling mendukung   untuk   menjaga mulianya martabat kita   sebagai   Imago Dei   dengan   mendandani jiwa   bukan   tubuh.   


  TEAMBHSKOCARKACIRSKK.   By Niko Boleng.    

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

A FILIO DULCISSIMO MATRIS AD FILIUM AMATUM DEI - BHS TDM - 15 Mei 2025

Di dalam otak kita, siapa pun kita, kita memiliki cita-cita, mempunyai kerinduan untuk menjadi bahagia. Kerinduan untuk memiliki uang, misalnya, itu hal yang normal karena hidup membutuhkan uang. Kerinduan untuk mendapatkan pekerjaan itu wajar karena memang bagian dari hidup. Tetapi sejatinya ada satu kerinduan tertinggi untuk orang beriman adalah rindu menjadi orang suci. Karena menjadi suci itulah jaminan mengalami kebahagiaan tertinggi dan kebahagiaan kekal. Opa lalu bertanya, “Pernakah kita membesaarkan kerinduan seperti itu dan berjuang melakukannya?” Pertanyaan sangat penting ini muncul di sela-sela Opa menjelaskan 7 keutamaan hidup sebagai lawan dari 7 dosa yang membawa kematian, Opa bercerita pengalaman hidupnya berjuang menjadi anak kesayangan mama dan ini bisa menjadi model anak kesayangan Allah atau menjadi suci untuk mendapatkan anugerah kebahagiaan kekal itu.  A FILIO DULCISSIMO MATRIS AD… dari menjadi anak kesayangan mama menuju… Jika mau jujur semua cita-cita kita um...