Skip to main content

FIDES IN ACTIONEM VITAE = IMAN DALAM TINDAKAN HIDUP - 10 Januari 2026 - NMCC, Mekon Indah. (Part 2)

Iman   bagi   kebanyakan kita merupakan topik   yang   tidak membumi.   Dia   hanya berkaitan dengan hal-hal spiritual,   yang   hanya berlaku dalam lingkaran   dan   lingkungan keagamaan.       Beberapa menit setelah penutupan Kuliah Umum bertema Brain Rot,       Opa menyampaikan   beberapa   hal penting   berkaitan dengan   iman.   Tepatnya   praktek beriman   dalam   tindakan hidup sehari-hari.    


  FIDES IN ACTIONEM VITAE  


  Beriman   sejatinya   berbicara tentang tindakan nyata   dalam   keseharian hidup.   Jika   tindakan dalam keseharian hidup   sudah   bernafaskan kasih   dan   kebaikan hidup,   maka   di  situlah iman kita hidup   dan   menyata.     Opa   menggambarkan   bagaimana iman harus menyata   dalam   praktek hidup keseharian kita.   Sikap   iman   itulah   yang perlu terus dibina   dan   dihidupi.       (1)     .   “Nurut sajalah," ..   itulah   beriman.     Lakukan saja   tanpa perlu   kita analisa duluan.   Ketika   disuruh mengampuni,   maka   lakukan saja.   Ketika   kita sudah melibatkan pikiran   maka   akan muncul berbagai pertimbangan,   tentang   berat ringannya kesalahan,   atau   pantas tidaknya tindakan   serta   aneka pertimbangan lain   dan   hasilnya sudah bisa kita tebak,   kita   tidak mengampuni   lagi.     (2)     .   Menerima hal baik   yang   menggetarkan jiwa menuju kebaikan itu   sebagai   suara   dan   bimbingan Tuhan   dan   dijalani dalam kesungguhan hidup.   Banyak   orang beranggapan itu sebagai kebetulan,   namun   bagi Opa tidak.       Hari kedua di Kupang, bahkan belum mendaftar ke Undana,       Opa sudah membaca buku pengantar filsafat karya C.A. Van Peursen, “Orientasi di Alam Filsafat   atau dalam judul aslinya,   Filosofische Orientatie”   dan   menemukan kalimat   yang   menjadi dasar kuat bagi hidup Opa selanjutnya   yaitu ,   “Non intratur in veritatem nisi per caritatem”   yang maknanya,   “Kita tidak bisa masuk ke dalam kebenaran   kecuali   melalui kasih.     Kasihlah   pra   syarat utama.   Opa   dengan tahu   dan   mau   serta   dalam kesungguhan total menghidupi semangat kasih   dalam   keseluruhan hidup.   Orang   mengatakan itu kebetulan   tetapi   Opa   dengan tegas menyatakan   Saya  tidak pernah memandang ini   sebagai   kebetulan.     Tuhan hadir melalui   ungkapan   St. Agustinus ini,   agar   Opa mendasarkan diri   pada   semangat sejati, semangat kasih   dalam   segala aspek hidup.       (3)     .   Kasih   juga   menjadi dasar menghidupi relasi.   Ketika   kita hadir dengan mencela   maka   pada saat bersamaan kita membunuh kerinduan orang   untuk   mendapatkan kebenaran   dan   kebaikan dari kita,   betapapun   baik   dan   mulianya niat kita.   Ketika     dalam tulisan,       kita perlu menggunakan cara   yang   tidak menyerang   dan   mencela berlebihan   karena   itu sama dengan membunuh kerinduan orang membaca tulisan kita.       (4)     .   Iman selalu mendahulukan tindakan kasih   dari   tindakan mengambil.   Yang benar adalah   Give and Take   bukan   sebaliknya   yang dikenal umum   Take and Give.       Semangat yang sejati     adalah   Give and Take   bukan   sebaliknya,       lebih baik lagi jika       Give now and Take one day.   Banyak   semangat baik   yang   kemudian dibelokan dalam keseharian hidup kita.       (5)     .   Orang beriman,   tidak   memusatkan diri pada memuji   dan   memuliakan Tuhan,   karena   Tuhan   sungguh   tidak membutuhkan kemuliaan lagi.   Yang utama justeru,   bagaimana kemuliaan yang sudah kita dapatkan kita bagikan   kepada   semakin banyak orang   agar   juga mengalami kemuliaan Allah melalui kita.   Kita   sudah mulia dengan menjadi dosen   misalnya, dan   tugas kita   adalah   bagaimana kemuliaan kita   sebagai dosen   melahirkan lagi kemuliaan baru dalam diri mahasiswa   yang   kita layani.   Yang penting adalah   bagaimana kita membuat orang lain merasakan kemuliaan Allah   karena   kita diberi lebih.    Kemampuan   yang kita miliki sudah mulia.   kemuliaan   itu diberikan Allah   dan   kita harus merelakan diri   untuk   mengalirkan kemuliaan   itu   kepada orang lain.     Komunitas SKK   telah   menerima   dan   mengalami kemuliaan Allah   dan   melalui BHS SKK   dan   dalam setiap kesempatan hidup kita   terus   berjuang menjadikan diri aliran kemuliaan     bagi sesama.       

  


  TEAMBHSKOCARKACIRSKK.  By Niko Boleng    

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

A FILIO DULCISSIMO MATRIS AD FILIUM AMATUM DEI - BHS TDM - 15 Mei 2025

Di dalam otak kita, siapa pun kita, kita memiliki cita-cita, mempunyai kerinduan untuk menjadi bahagia. Kerinduan untuk memiliki uang, misalnya, itu hal yang normal karena hidup membutuhkan uang. Kerinduan untuk mendapatkan pekerjaan itu wajar karena memang bagian dari hidup. Tetapi sejatinya ada satu kerinduan tertinggi untuk orang beriman adalah rindu menjadi orang suci. Karena menjadi suci itulah jaminan mengalami kebahagiaan tertinggi dan kebahagiaan kekal. Opa lalu bertanya, “Pernakah kita membesaarkan kerinduan seperti itu dan berjuang melakukannya?” Pertanyaan sangat penting ini muncul di sela-sela Opa menjelaskan 7 keutamaan hidup sebagai lawan dari 7 dosa yang membawa kematian, Opa bercerita pengalaman hidupnya berjuang menjadi anak kesayangan mama dan ini bisa menjadi model anak kesayangan Allah atau menjadi suci untuk mendapatkan anugerah kebahagiaan kekal itu.  A FILIO DULCISSIMO MATRIS AD… dari menjadi anak kesayangan mama menuju… Jika mau jujur semua cita-cita kita um...