Iman bagi kebanyakan kita merupakan topik yang tidak membumi. Dia hanya berkaitan dengan hal-hal spiritual, yang hanya berlaku dalam lingkaran dan lingkungan keagamaan. Beberapa menit setelah penutupan Kuliah Umum bertema Brain Rot, Opa menyampaikan beberapa hal penting berkaitan dengan iman. Tepatnya praktek beriman dalam tindakan hidup sehari-hari.
FIDES IN ACTIONEM VITAE
Beriman sejatinya berbicara tentang tindakan nyata dalam keseharian hidup. Jika tindakan dalam keseharian hidup sudah bernafaskan kasih dan kebaikan hidup, maka di situlah iman kita hidup dan menyata. Opa menggambarkan bagaimana iman harus menyata dalam praktek hidup keseharian kita. Sikap iman itulah yang perlu terus dibina dan dihidupi. (1) . “Nurut sajalah," .. itulah beriman. Lakukan saja tanpa perlu kita analisa duluan. Ketika disuruh mengampuni, maka lakukan saja. Ketika kita sudah melibatkan pikiran maka akan muncul berbagai pertimbangan, tentang berat ringannya kesalahan, atau pantas tidaknya tindakan serta aneka pertimbangan lain dan hasilnya sudah bisa kita tebak, kita tidak mengampuni lagi. (2) . Menerima hal baik yang menggetarkan jiwa menuju kebaikan itu sebagai suara dan bimbingan Tuhan dan dijalani dalam kesungguhan hidup. Banyak orang beranggapan itu sebagai kebetulan, namun bagi Opa tidak. Hari kedua di Kupang, bahkan belum mendaftar ke Undana, Opa sudah membaca buku pengantar filsafat karya C.A. Van Peursen, “Orientasi di Alam Filsafat atau dalam judul aslinya, Filosofische Orientatie” dan menemukan kalimat yang menjadi dasar kuat bagi hidup Opa selanjutnya yaitu , “Non intratur in veritatem nisi per caritatem” yang maknanya, “Kita tidak bisa masuk ke dalam kebenaran kecuali melalui kasih. Kasihlah pra syarat utama. Opa dengan tahu dan mau serta dalam kesungguhan total menghidupi semangat kasih dalam keseluruhan hidup. Orang mengatakan itu kebetulan tetapi Opa dengan tegas menyatakan Saya tidak pernah memandang ini sebagai kebetulan. Tuhan hadir melalui ungkapan St. Agustinus ini, agar Opa mendasarkan diri pada semangat sejati, semangat kasih dalam segala aspek hidup. (3) . Kasih juga menjadi dasar menghidupi relasi. Ketika kita hadir dengan mencela maka pada saat bersamaan kita membunuh kerinduan orang untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan dari kita, betapapun baik dan mulianya niat kita. Ketika dalam tulisan, kita perlu menggunakan cara yang tidak menyerang dan mencela berlebihan karena itu sama dengan membunuh kerinduan orang membaca tulisan kita. (4) . Iman selalu mendahulukan tindakan kasih dari tindakan mengambil. Yang benar adalah Give and Take bukan sebaliknya yang dikenal umum Take and Give. Semangat yang sejati adalah Give and Take bukan sebaliknya, lebih baik lagi jika Give now and Take one day. Banyak semangat baik yang kemudian dibelokan dalam keseharian hidup kita. (5) . Orang beriman, tidak memusatkan diri pada memuji dan memuliakan Tuhan, karena Tuhan sungguh tidak membutuhkan kemuliaan lagi. Yang utama justeru, bagaimana kemuliaan yang sudah kita dapatkan kita bagikan kepada semakin banyak orang agar juga mengalami kemuliaan Allah melalui kita. Kita sudah mulia dengan menjadi dosen misalnya, dan tugas kita adalah bagaimana kemuliaan kita sebagai dosen melahirkan lagi kemuliaan baru dalam diri mahasiswa yang kita layani. Yang penting adalah bagaimana kita membuat orang lain merasakan kemuliaan Allah karena kita diberi lebih. Kemampuan yang kita miliki sudah mulia. kemuliaan itu diberikan Allah dan kita harus merelakan diri untuk mengalirkan kemuliaan itu kepada orang lain. Komunitas SKK telah menerima dan mengalami kemuliaan Allah dan melalui BHS SKK dan dalam setiap kesempatan hidup kita terus berjuang menjadikan diri aliran kemuliaan bagi sesama.
TEAMBHSKOCARKACIRSKK. By Niko Boleng
Comments
Post a Comment