Brain Rot awalnya merupakan sebuah istilah slang yang menggambarkan kerusakan atau pembusukan otak. Dalam dunia slang kondisi pembusukan otak dikaitkan dengan konsumsi konten receh berlebihan. Dalam kuliah umum bersama para biarawan Frater OMD, Frater OCD, Frater Projo Komunitas St. Mikael dan para guru MMS, Opa memaparkan Brain Rot dengan penyebab dan bagaimana cara mengatasinya. Opa memunculkan juga beberapa istilah baru salah satunya adalah kecerdasan hidup atau life intelligence. Berikut beberapa hal pokok yang menjadi topik pembahasan dan diskusi interaktif dalam studium generale perdana di tahun 2026.
BRAIN ROT
Opa menganalogikan otak dengan tanah. Opa mengajak kita melihat kompleks Mekon dengan tanah atau lahan tidur di sekitarnya. Tanah yang sama bahkan berdekatan tetapi Mekon sangat bercahaya dan menarik banyak orang untuk datang dan menimba sesuatu darinya. Mekon sungguh berubah menjadi taman yang sangat menarik. Mekon menjadi demikian adanya karena dikelola dan diurus oleh orang yang bercita-cita agung dan berjiwa mulia. Mekon bercahaya karena keagungan cita-cita dan kemuliaan jiwa kita yang mengelolanya. Lahan tidur di sekitarnya tidak bercahaya dan mengundang orang melempar sampah, bahkan membuang hajat dan ditumbuhi rumput liar yang kemudian mengundang ternak datang mengobrak-abrik lahan itu. Demikian jugalah otak, ketika tidak diurus dan kelola dalam cahaya jiwa maka tidak ada cahaya di sana. Kondisi ini terjadi karena adanya kerusakan atau pembusukan otak yang dikenal dengan istilah Brain Rot. Brain Rot secara fisik disebabkan oleh makanan ( terutama yang mengandung unsur kimia ), minuman ( alkhol berlebih seperti sopi ) dan konsumsi konten medsos berlebihan. Akan tetapi ada penyebab lain yang pasti sangat mengganggu jika bersumber dari jiwa berupa malas, mudah bosan, daya ingat dan kreativitas menurun, kehilangan konsentrasi dan kondisi minor secara jiwa lainnya. Namun demikian kondisi brain rot bukanlah hal fatal yang tidak bisa diperbaiki. Allah pencipta kita sangat berkepentingan untuk kebaikan kita maka percayalah Allah jugalah yang akan membantu kita menghilangkan pembusukan otak ini.
Otak manusia sesungguhnya berpotensi diisi dua hal yaitu kegelapan ( dari setan ) dan cahaya yang bersumber dari Allah. Ketika kegelapan yang mengisi otak maka lahirlah ketakutan, kehilangan kepercayaan diri dan berbagai kondisi rusak lainnya. Otak agar berisi cahaya maka yang diubah pertama dan terutama adalah bukan otaknya melainkan jiwa. Jiwalah yang sejatinya terus berpartisipasi mengubah otak dengan hal-hal baik karena bersumber dari Allah. Ibarat tanah kita memilih benih apa yang ditanam dan mencabut rumput seperti ilalang yang mengganggu. Demikianpun jiwa terhadap otak kita. Semakin jernih jiwa kita maka kita akan mudah menata otak dan menyingkirkan yang mengganggu seperti mencabut kemalasan, mengatasi gangguan konsentrasi, dll. Jiwa yang jernih akan memilih benih baik yang harus diisi dalam otak. Ketika jiwa memilih mengisi otak dengan kecerdasan maka jiwa akan menanam benih yang mendukung kecerdasan seperti memperkuat semangat literasi, membaca, mencari menemui bahkan mengejar orang-orang cerdas yang menjadi idola dan panutan hidup.
LIFE INTELLIGENCE
Opa pada kesempatan kuliah umum kali ini mengajak peserta terutama para calon imam agar memperkuat kecerdasan hidup atau life intelligence. Opa mengajak semua agar tidak terjebak ukuran materialistic logis dari IQ dan ukuran kecerdasan lainnya. Berbagai kelemahan dan kekurangan yang dialami manusia sejatinya dibaca sebagai undangan untuk mengelola diri secara benar. Manusia diciptakan hanya setengah jadi bahkan setengah hati dan agar menjadi utuh dan penuh kita mengarahkan diri pada sumber pertama dan terutama yaitu Tuhan pencipta kita. Manusia dewasa ini sudah terjebak jauh meninggalkan Tuhan dan bersandar penuh pada Sains dan teknologi. Artificial Intelligence atau AI bila tidak dikelola secara benar bisa saja menjadi Tuhannya manusia dewasa ini. Meninggalkan pencipta menjadikan manusia dewasa ini dalam kebingungan karena yang dipanen justeru kerusakan semua sendi kehidupan.
Opa terus mendorong semua kita terutama para calon imam agar mengelola hidup secara cerdas dan bijaksana. Tuhan akan membantu kita mengelola hidup dalam cahayaNya karena demikianlah kepentingan Tuhan atas ciptaanNya. Kecerdasan mengelola hidup ( Life Intelligence ) dalam ukuran Allah dimulai dengan menutrisi jiwa karena jiwalah sejatinya yang mengarahkan seluruh hidup. Untuk menutrisi jiwa kita bercermin pada buah – buah roh. Ketika jiwa dinutrisi dengan dan dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri maka hidup akan bertumbuh dan berkembang maksimal dalam ukuran Allah. Kita bisa mengukur kejernihan jiwa setiap hari agar hidup menjadi jauh lebih bermakna. Ketika kejernihan jiwa terus terawat maka kita menjadi pribadi yang sangat bercahaya memancarkan diri sebagai Imago Dei. Opa terus mendorong agar mengelola diri dengan terus membaca, bertekun dalam membaca entah bisa langsung dipahami atau tidak, teruslah membaca. Ini juga latihan menjernihkan jiwa. Sejatinya ada yang lebih mulia dari menjadi pembaca yaitu menjadi penulis. Menulis rutin menjadikan jiwa mulia karena seorang penulis pasti menjadi pembaca, pendengar, pengamat, perenung dan pemikir. Menjadi penulis pasti rendah hati, sabar, tekun dan jujur dan inilah benih baik yang disediakan jiwa untuk ditanam dalam otak. Darinya otak akan menghadirkan taman indah untuk kehidupan diri maupun kehidupan bersama. Jiwa menjadikan kehidupan beriman kita berkembang dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan lain. Kita berilmu pun sesungguhnya tetap dalam cahaya iman karena pengaruh kekuatan dan kejernihan jiwa kita. Ini sungguh sesuai dengan semangat fides quaerens intellectum. Mekon Indah menjadi bukti nyata spirit ini karena semua terjadi melalui doa dalam iman dan ini diterangi oleh jiwa yang mulia karena berasal dari Allah. Iman benar-benar mendahului, menerangi bahkan menjiwai pengertian dan pemahaman akan hidup. Mari menghindari brain rot bukan dengan artificial intelligence dan kecerdasan lain melainkan dengan life intelligence.
BHSSKK by Niko Boleng & Suci.
Comments
Post a Comment