Sudah sekian abad manusia sungguh-sungguh mempercayakan hidupnya hanya pada otaknya. Agar otak bisa maksimal, bahkan sejak dalam kandungan sudah dinutrisi secara khusus dan istimewah. Makanan untuk kecerdasan otak terus dikembangkan agar otak mengalami pertumbuhan optimal dengan harapan besar akan menuai generasi cerdas dan mampu mengelola hidup dan dunia dengan lebih baik. Faktanya justeru terjadi sebaliknya. Pada bagian ke dua BHS TDM sore ini, Opa memperkaya kita dengan pengetahuan mengapa manusia dan dunia gagal ketika total mengandalkan otak semata.
PERAN OTAK BAGI HIDUP
Pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan adalah mengapa otak kita tidak bisa menyelesaikan masalah. Mari kita simak cara kerja otak. Otak secara umum dibagi atas 4 bagian pokok: Otak dasar yang disebut Vegetatif Brain atau Brain Stem, dan di atas otak dasar ini ada Sistem Limbik. kedua bagian otak ini ada pada bagian bawah. Otak yang berkembang pertama adalah brain stem. Setelah itu bertumbuh Sistem Limbik. Brain Stem adalah bagian otak yang berbicara tentang hidup atau mati. Sedangkan Sistem Limbik berhubungan dengan emosi, dan berkutat pada enak dan tidak enak. Setelahnya baru bertumbuh otak rasional Neo Cortex dan kemudian bertumbuh otak spiritual, Spiritual Circuit. Jika kita tidak belajar maka yang berfungsi hanyalah dua otak bawah kita, yaitu Brain Stem dan Sistem Limbik. Otak rasional hanya akan berkembang ketika kita belajar. Syarat belajar adalah harus mau diajar. Ketika kita tidak mau belajar dan diajar maka hasilnya sudah pasti, hidup akan dikendalikan oleh dua bagian bawah otak. kedua bagian otak ini menghimpun informasi berkaitan dengan hidup yang berorientasi pada enak dan tidak enak. Oleh karenanya dia bekerja atas nama black and white, mati atau hidup, enak atau tidak enak. Otak bagian bawah mengelola ketakutan akan kematian karena dia tahu bahwa manusia akan mati. Oleh karenanya dia mencari cara mencegah berbagai hal yang mematikan. Dia tahu yang mengancam kematian tubuh dan karenanya dia benar-benar berkutat pada keselamatan tubuh. Dia mengumpulkan berbagai informasi yang mengancam tubuh. Jika dikuasai oleh kedua bagian otak ini maka diskusi kita selalu bertema yang berbahaya, soal kewaspadaan dan masalah hidup. Coba lihat dalam hidup jika hidup diwarnai dengan ketakutan akan hal-hal itu maka sudah pasti yang aktif adalah 2 otak bagian bawah kita. Ketika Brain Stem menjamin keamanan tubuh maka Sistem Limbik mulai beraksi mencari yang enak untuk tubuh. Ini bukan hanya soal makan tapi juga seperi mempercantik bibir karena itu enak dipandang, dan ke'enak'an tubuh lainnya. Dan di sinilah bisnis besar dunia memainkan perannya. Otak bagian bawah betul-betul berkonsentrasi pada white and black dan atas ketakutannya maka ia berkonsentrasi pada yang gelap. Dengan demikian otak bagian bawah tidak berbicara tentang harapan, yang dikembangkan dan dilebih-lebihkan adalah rasa takut. Bahkan hukum di Indonesia dibangun juga atas dasar rasa takut. Sebenarnya Hukum evolusi juga berkutat pada otak bagian bawah dalam semangat survival of the fittest. Yang berkembang adalah kehati-hatian bernada minor karena setiap kita adalah homo homini lupus, setiap kita adalah serigala bagi yang lainnya. Hidup akhirnya dibangun dalam ketakutan, berprasangka buruk dan justeru pada area inilah bisnis besar dibangun.
Pertanyaannya bagaimana otak bagian bawah itu diberi cahaya? Ketika dunia di bangun dari bawah maka yang dibangun hanyalah alasan yang membenarkan diri. Rasionalisasi itu memang hasil kerja otak bagian bawah. Tuhan sangat mengenal sisi buruk otak bagian bawah dan karenanya Tuhan menghadirkan otak bagian atas agar manusia belajar tentang yang benar dan yang baik. Berbeda dengan otak bagian atas. kalau otak bagian bawah bekerja secara otomatis, tidak perlu belajar. Marah dan benci itu tidak perlu belajar. Lalu bersolek saja tidak perlu belajar, semua perempuan pasti sudah tahu dengan sendirinya. Ini berbeda dengan otak bagian atas yang mengharuskan kita belajar seumur hidup. Selama hampir 25 tahun semua kita mengalami masa penting dalam hidup untuk belajar dan diajar. Setelahnya kita diharapkan atau dimampukan untuk belajar. Dengan belajar dan diajar itulah kita matang berdiskusi tentang makanan sehat, tentang yang benar dan baik. Jika kita tidak memberi ruang pada belajar dan diajar maka hidup kita dikuasai oleh ketakutan, kecemasan dan kegelisanan. Apa kata orang pun kita membacanya sebagai sumber ketakutan. Berbeda pada orang yang belajar dan mau diajar karena dia bisa memilah benar tidaknya, baik tidaknya untuk hidupnya. Kecemasan dan ketakutan berada pada otak bagian bawah. Lebih mudah menindas yang ke bawah dari pada mendorong ke atas. Oleh karenanya kedua bagian otak untuk kebenaran dan kebaikan berada pada bagian atas. Jadi kedua bagian otak bawah untuk belajar dari bawah dan kedua otak bagian atas untuk belajar dari atas. Cahaya itu datangnya dari atas. Sedangkan Otak bagian bawah karena berorientasi daging/tubuh itu sifatnya gelap. Ketika otak bagian atas itu diisi dengan mau belajar dan mau diajar maka kita bisa mengendalikan otak bagian bawah. Contoh sederhananya, menurut otak rasional membunuh itu buruk, sementara otak spiritual menerima membunuh itu sebagai buruk dan untuk mencegahnya hapuslah amarah, karena menyelesaikan masalah membunuh itu sangatlah rumit. Penjara untuk raga pembunuh bisa terlaksana tetapi penjara tidak mampu memenjarakan kebencian keluarga korban dan ketakutan pembunuhnya walaupun raga sudah di kerangkeng. Kita pun tidak bisa membendung dosa lebih lanjut, sementara marah bisa dikelola agar keburukan lebih lanjut bisa diatasi. Mengelola amarah itu tidak rumit karena masih urusan personal dan kita bisa bebas dari dosa dan bebas pula dari merepotkan orang. Itulah cahaya dari kedua bagian atas otak yang didapat dari semangat mau diajar dan belajar. Makin dewasa hendaknya semakin kuat semangat untuk belajar agar otak bagian atas semakin bercahaya bagi otak bagian bawah dan akhirnya kita memanen cara mengelola hidup secara lebih baik. Bimbingan Hidup Sehat bersama Opa menjadi kesempatan bagi Komunitas SKK untuk terus diajar dan belajar (seumur hidup). Sebagaimana kita ketahui bahwa atasan tubuh adalah jiwa maka belajar dan diajar adalah jembatan tubuh menyediakan ruang yang kompatibel bagi jiwa agar tubuh mampu menyelesaikan masalah hidup dalam cahaya jiwa. Demikian pun jiwa terhadap Roh hingga masalah hidup dapat dikelola dalam semangat (E) mas (dari) Allah.
Salam Sukacita. 👍❤😀
By TEAMBHSKOCARKACIRSKK oleh Niko Boleng.
Comments
Post a Comment