Skip to main content

HATI MENUNTUN MENUJU TUJUAN HIDUP MELALUI MAKNA HIDUP - BHS TDM 10 Feb 2026



*Kita sudah pasti menerima* bahwa *manusia tidak saja memiliki tubuh* melainkan *terutama *memiliki jiwa.* *Fakta ini* tidak serta merta *membuat kita memberi perhatian minimal berimbang* antara *tubuh* dan *jiwa.* *Kenyataannya* sebagian besar *perhatian kita tercurah* pada *tubuh.* Melalui BHS SKK *Opa* selalu *menarik kita memberi perhatian terutama* pada *jiwa* sebagaimana pesan Opa sore ini.  

*JIWA MENUJU TUJUAN HIDUP MELALUI MAKNA HIDUP*

*Isi pikiran manusia umumnya berasal* dari *dua sumber informasi.* Kedua sumber informasi ini *sejalan dengan dua unsur* yang *membentuk manusia* yaitu *tubuh* dan *jiwa.* *Tubuh manusia* berasal *dari tanah* dan *akan kembali ke tanah* sebaliknya *sisi lain dari manusia* yaitu *jiwa tidak berasal dari tanah* dan *akan kembali ke asalnya* yang *ilahi.* Dengan *mekanisme belajarnya tubuh mengumpulkan informasi* demikianpun *jiwa mengumpulkan informasi* dengan *mekanisme belajarnya.* Yang *dihimpun oleh tubuh* pada dasarnya *informasi* yang *berhubungan dengan materi sesuai asalnya.* *Otak* pun *bagian dari tubuh* maka *konsentrasi otak* itu *belajar materi sebagaimana tubuh.* *Sifat informasi* yang *dihimpun oleh otak* berciri *materi.* *Sifat informasi* ini berciri *takut akan kematian.* *Pikiran kemudian mencari jalan* agar *menghindari kematian* dan *jalannya adalah materi juga* seperti *makanan, rumah, mobil, pakaian* supaya *kita tidak terganggu* oleh *materi lain.* Kita *menghindari benturan dengan materi lain* karena *jika terjadi* berakibat *kehancuran, saling menghancurkan.* *Angin itu materi* maka *kita harus menghindarinya* dengan *menciptakan sesuatu agar terhindar* dari *benturan dengan materi lain.* *Tubuh kita* adalah *materi* maka *tubuh harus disuplai oleh materi lain* agar *tubuh itu tidak hancur.* Pada ruang inilah *berkembang ilmu tentang nutrisi* yang *benar untuk tubuh.* *Bahasa para medis* adalah bahwa *dengan nutrisi* yang *benar* dan *berbagai fasilitas lainnya disiapkan* untuk *mencegah kematian.* Jika *tubuh rusak* maka *vonisnya ini berbahaya* karena *bisa berakibat kematian.* Untuk itu *disiapkanlah obat* dan *suplemen lengkap* demi *mencegah kematian* yang *sangat ditakutkan tubuh.* Dalam konteks ini, *setan menyusup masuk* melalui *materi juga.* Kisah di *Taman Eden, setan membujuk manusia* melalui *materi juga* yaitu *buah pohon di tengah taman itu.* Sebelum *setan datang* informasi *yang diterima* adalah *bahwa kamu akan mati* jika *kamu makan buah dari pohon* ini. *Setan membalikan total kebenaran informasi ini* bahwa *kamu tidak akan mati* jika *kamu memakan buah pohon* ini. *Setan* memanfaatkan *ketakutan akan kematian* melalui *tubuh, melalui otak* yang adalah *bagian dari tubuh materi* agar *terhindar dari kematian.* Kalau *dimakan bukan kematian* yang *didapat melainkan akan bersifat sama* seperti *Allah.* Di sinilah *ketakutan akan kematian mendapatkan jalan keluar,* maka *jatuhlah manusia.* 

*Bagian lain dari manusia* adalah *jiwa.* *Jiwa sesuai asalnya,* dia belajar *bukan tentang kematian* melainkan *belajar dari kehidupan.* Jiwa *tidak berpikir tentang kematian* melainkan *berpikir tentang mencapai tujuan hidup* bukan *tujuan kematian.* Dengan demikian *orang yang hidup sebenarnya* orang *yang mengejar tujuan hidupnya* bukan *tujuan kematian.* *Tujuan hidup itu* berasal *dari atas, yang ilahi dari Tuhan.* Melalui *agama kita diberitahu* tentang *tujuan hidup itu.* *Agama* tidak *mengajarkan kita tentang pohon* atau *tentang seng* melainkan *tentang tujuan hidup.* Yang *diajarkan dalam agama* adalah *hasil komunikasi* antara *Allah* dengan *manusia.* *Allah berbicara* melalui *orang – orang di bumi* yang *dalam agama samawi* dikenal *sebagai nabi.* *Nabi* itu *berbeda dari ilmuwan.* Kalau *ilmuwan itu hasil belajar dari alam,* dan *karenanya ilmuwan berhubungan* dengan *tekhnik, menciptakan alat, membaharui alam* menjadi *alat-alat* yang *disebut dengan teknologi.* Sebaliknya *yang diajarkan Tuhan* melalui *para nabi* bukan *hasil karya para nabi* melainkan *hasil perjumpaan para nabi* dengan *Tuhan.* Karena itu *dalam ajaran Kristen,* hasil *perjumpaan dengan Tuhan* disebut *_Convenant_* yaitu *_Perjanjian._* *Kitab Suci* berisi *perjanjian Allah* yang *menyertai manusia selama di bumi* untuk *hidup bermakna* dan *melalui makna hidup* itu *dia mencapai tujuan hidupnya* BUKAN *tujuan kematiannya.* Pertanyaannya, *apa tujuan hidup kita di dunia ini?* Jawabannya adalah *mempraktekan apa yang dirumuskan dalam perjanjian* antara *Allah* dan *manusia.* *Mempraktekannya* dalam arti *memelihara dunia, dunia dimaksud* bukan *hanya manusia* tetapi *semua ciptaan.* Karena *kita ditugaskan memelihara dunia* maka *kita* adalah *pekerja di kebun anggur atas nama Tuhan.* Dalam *Islam kita mengenal* istilah *Alkalifa* yang artinya *wakil Tuhan* untuk *memelihara alam.* Seorang *wakil Tuhan di bumi bertugas* (1) *memelihara alam* dan *seharusnya berani menjadi kotor* untuk *memelihara bumi.* Selain itu juga (2) *memelihara sesama* menjadi *tanggung jawab manusia di bumi* mewakili *Tuhan.* Caranya *jika kita makan* maka *orang lain juga harus dijamin makannya,* ketika *kita bersukacita* seharusnya *dipastikan sesama juga mengalami yang sama.* Ketika *sesama bersedih* maka *kita membawa penghiburan karena kesedihan* adalah *kematian, mati dari sukacita.* Membawa *sukacita* sama dengan *membawa kehidupan.* Ingat *pesan Tuhan,* ketika *Aku lapar kamu memberi aku makan,* ketika *Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian,* ketika *Aku orang asing, kamu memberi Aku tumpangan,* dst. Terhadap *sesama manusia kita* harus *memberinya hidup* sama seperti *kita hidup.* 

*Manusia* dan *dunia sekarang dalam otaknya* menjadi *medan pertemuan* antara *informasi dari Tuhan* dan *informasi dari bumi.* Secara struktur *bagian otak Brain Stem* dan *Sistem Limbik* yang *system kerjanya* berciri *bumi, bersifat materi letak strukturnya* juga *berada di bawah.* Kemudian *otak manusia berciri kebenaran* dan *kebaikan* dari *strukturnya berada di atas* yaitu *pada Neocortex* dan *Spiritual Circuit.* Sejatinya *mudah menekan ke bawah,* dan *lebih sulit menekan ke atas.* *Kita* lebih *mudah menekan* dan *mengontrol ke bawah* jika *kita dikuasai* oleh *informasi dari atas melalui jiwa* yang *berbicara tentang makna* dan *tujuan hidup.* Sedangkan *bagian bawah hanya berjuang* dan *bergulat melawan kematian.* Ketika *kita mati tubuh hancur* dan *itu yang ditakuti otak,* sedangkan *jiwa tidaklah mati, jiwa bersifat ilahi* dan *abadi.* *Jiwa mengarahkan kita* pada *tujuan hidup* melalui *makna hidup kita.* Melalui *BHS Komunitas SKK* diharapkan *belajar lebih banyak dari atas,* yang *dalam semangat orang Kristen,* yang utama *_carilah dahulu Kerajaan Allah_* dan *_yang lain akan ditambahkan._* *Opa* melalui BHS *senantiasa mengajak Komunitas SKK* agar *belajar* dan *menghidupi informasi dari atas* yang *dibawa jiwa* dan *bukan sebaliknya informasi dari otak* yang *didapat dari bumi ini.* Karenanya *tepatlah motto SKK,* *_Corpus Sanum in Metem Sanam_* mengganti *_Men sana in corpore sano_* yang *telah membelokan manusia sekian lama.*  
*Salam Sukacita.* 👍❤😀

Ditulis ulang oleh*TEAMBHSKOCARKACIRSKK.*
 👍❤😀_Niko Boleng_

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

Jangan Takut, Allah Menyertai Kita - Oleh Porat Antonius - BHSO Klaten 7 Agt 2021

Kita diminta jangan takut. Kalau kita takut, banyak hal yang buruk terjadi pada kita. Bersukacitalah. Sebenarnya dalam ilmu kedokteran, sukacita sudah diakui sebagai obat dan sudah dirumuskan dalam apa yang disebut Placebo. Dari bahasa Latin, placebo domino in regione vivorum. Secara mudahnya diterjemahkan “Saya bersukacita karena Allah hadir dalam hidup dalam hidupku”. Namun belakangan ini muncul istilah Nocebo, menakut-nakuti. Orang ditakuti-takuti dengan penyakit sampai harus makan obat seumur hidup. Tidak disadari banyak orang, bahwa pandemi sekarang ini adalah wujud nocebo. Diekspos kemana-mana virus ini sudah ada varian baru, varian ini dan itu. Itu semua meningkatkan ketakutan kita. Karena itu, makin banyak yang menderita karena makin cemas. Apalagi, setelah vaksin pertama kena covid, vaksin kedua masih takut. Masih takut lagi maka ditambah dengan booster. Akhirnya tubuh kita penuh vaksin. Ini semua praktek nocebo. Saya minta anggota SKK tidak perlu takut.  Sebagai warga neg...