*Kita sudah pasti menerima* bahwa *manusia tidak saja memiliki tubuh* melainkan *terutama *memiliki jiwa.* *Fakta ini* tidak serta merta *membuat kita memberi perhatian minimal berimbang* antara *tubuh* dan *jiwa.* *Kenyataannya* sebagian besar *perhatian kita tercurah* pada *tubuh.* Melalui BHS SKK *Opa* selalu *menarik kita memberi perhatian terutama* pada *jiwa* sebagaimana pesan Opa sore ini.
*JIWA MENUJU TUJUAN HIDUP MELALUI MAKNA HIDUP*
*Isi pikiran manusia umumnya berasal* dari *dua sumber informasi.* Kedua sumber informasi ini *sejalan dengan dua unsur* yang *membentuk manusia* yaitu *tubuh* dan *jiwa.* *Tubuh manusia* berasal *dari tanah* dan *akan kembali ke tanah* sebaliknya *sisi lain dari manusia* yaitu *jiwa tidak berasal dari tanah* dan *akan kembali ke asalnya* yang *ilahi.* Dengan *mekanisme belajarnya tubuh mengumpulkan informasi* demikianpun *jiwa mengumpulkan informasi* dengan *mekanisme belajarnya.* Yang *dihimpun oleh tubuh* pada dasarnya *informasi* yang *berhubungan dengan materi sesuai asalnya.* *Otak* pun *bagian dari tubuh* maka *konsentrasi otak* itu *belajar materi sebagaimana tubuh.* *Sifat informasi* yang *dihimpun oleh otak* berciri *materi.* *Sifat informasi* ini berciri *takut akan kematian.* *Pikiran kemudian mencari jalan* agar *menghindari kematian* dan *jalannya adalah materi juga* seperti *makanan, rumah, mobil, pakaian* supaya *kita tidak terganggu* oleh *materi lain.* Kita *menghindari benturan dengan materi lain* karena *jika terjadi* berakibat *kehancuran, saling menghancurkan.* *Angin itu materi* maka *kita harus menghindarinya* dengan *menciptakan sesuatu agar terhindar* dari *benturan dengan materi lain.* *Tubuh kita* adalah *materi* maka *tubuh harus disuplai oleh materi lain* agar *tubuh itu tidak hancur.* Pada ruang inilah *berkembang ilmu tentang nutrisi* yang *benar untuk tubuh.* *Bahasa para medis* adalah bahwa *dengan nutrisi* yang *benar* dan *berbagai fasilitas lainnya disiapkan* untuk *mencegah kematian.* Jika *tubuh rusak* maka *vonisnya ini berbahaya* karena *bisa berakibat kematian.* Untuk itu *disiapkanlah obat* dan *suplemen lengkap* demi *mencegah kematian* yang *sangat ditakutkan tubuh.* Dalam konteks ini, *setan menyusup masuk* melalui *materi juga.* Kisah di *Taman Eden, setan membujuk manusia* melalui *materi juga* yaitu *buah pohon di tengah taman itu.* Sebelum *setan datang* informasi *yang diterima* adalah *bahwa kamu akan mati* jika *kamu makan buah dari pohon* ini. *Setan membalikan total kebenaran informasi ini* bahwa *kamu tidak akan mati* jika *kamu memakan buah pohon* ini. *Setan* memanfaatkan *ketakutan akan kematian* melalui *tubuh, melalui otak* yang adalah *bagian dari tubuh materi* agar *terhindar dari kematian.* Kalau *dimakan bukan kematian* yang *didapat melainkan akan bersifat sama* seperti *Allah.* Di sinilah *ketakutan akan kematian mendapatkan jalan keluar,* maka *jatuhlah manusia.*
*Bagian lain dari manusia* adalah *jiwa.* *Jiwa sesuai asalnya,* dia belajar *bukan tentang kematian* melainkan *belajar dari kehidupan.* Jiwa *tidak berpikir tentang kematian* melainkan *berpikir tentang mencapai tujuan hidup* bukan *tujuan kematian.* Dengan demikian *orang yang hidup sebenarnya* orang *yang mengejar tujuan hidupnya* bukan *tujuan kematian.* *Tujuan hidup itu* berasal *dari atas, yang ilahi dari Tuhan.* Melalui *agama kita diberitahu* tentang *tujuan hidup itu.* *Agama* tidak *mengajarkan kita tentang pohon* atau *tentang seng* melainkan *tentang tujuan hidup.* Yang *diajarkan dalam agama* adalah *hasil komunikasi* antara *Allah* dengan *manusia.* *Allah berbicara* melalui *orang – orang di bumi* yang *dalam agama samawi* dikenal *sebagai nabi.* *Nabi* itu *berbeda dari ilmuwan.* Kalau *ilmuwan itu hasil belajar dari alam,* dan *karenanya ilmuwan berhubungan* dengan *tekhnik, menciptakan alat, membaharui alam* menjadi *alat-alat* yang *disebut dengan teknologi.* Sebaliknya *yang diajarkan Tuhan* melalui *para nabi* bukan *hasil karya para nabi* melainkan *hasil perjumpaan para nabi* dengan *Tuhan.* Karena itu *dalam ajaran Kristen,* hasil *perjumpaan dengan Tuhan* disebut *_Convenant_* yaitu *_Perjanjian._* *Kitab Suci* berisi *perjanjian Allah* yang *menyertai manusia selama di bumi* untuk *hidup bermakna* dan *melalui makna hidup* itu *dia mencapai tujuan hidupnya* BUKAN *tujuan kematiannya.* Pertanyaannya, *apa tujuan hidup kita di dunia ini?* Jawabannya adalah *mempraktekan apa yang dirumuskan dalam perjanjian* antara *Allah* dan *manusia.* *Mempraktekannya* dalam arti *memelihara dunia, dunia dimaksud* bukan *hanya manusia* tetapi *semua ciptaan.* Karena *kita ditugaskan memelihara dunia* maka *kita* adalah *pekerja di kebun anggur atas nama Tuhan.* Dalam *Islam kita mengenal* istilah *Alkalifa* yang artinya *wakil Tuhan* untuk *memelihara alam.* Seorang *wakil Tuhan di bumi bertugas* (1) *memelihara alam* dan *seharusnya berani menjadi kotor* untuk *memelihara bumi.* Selain itu juga (2) *memelihara sesama* menjadi *tanggung jawab manusia di bumi* mewakili *Tuhan.* Caranya *jika kita makan* maka *orang lain juga harus dijamin makannya,* ketika *kita bersukacita* seharusnya *dipastikan sesama juga mengalami yang sama.* Ketika *sesama bersedih* maka *kita membawa penghiburan karena kesedihan* adalah *kematian, mati dari sukacita.* Membawa *sukacita* sama dengan *membawa kehidupan.* Ingat *pesan Tuhan,* ketika *Aku lapar kamu memberi aku makan,* ketika *Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian,* ketika *Aku orang asing, kamu memberi Aku tumpangan,* dst. Terhadap *sesama manusia kita* harus *memberinya hidup* sama seperti *kita hidup.*
*Manusia* dan *dunia sekarang dalam otaknya* menjadi *medan pertemuan* antara *informasi dari Tuhan* dan *informasi dari bumi.* Secara struktur *bagian otak Brain Stem* dan *Sistem Limbik* yang *system kerjanya* berciri *bumi, bersifat materi letak strukturnya* juga *berada di bawah.* Kemudian *otak manusia berciri kebenaran* dan *kebaikan* dari *strukturnya berada di atas* yaitu *pada Neocortex* dan *Spiritual Circuit.* Sejatinya *mudah menekan ke bawah,* dan *lebih sulit menekan ke atas.* *Kita* lebih *mudah menekan* dan *mengontrol ke bawah* jika *kita dikuasai* oleh *informasi dari atas melalui jiwa* yang *berbicara tentang makna* dan *tujuan hidup.* Sedangkan *bagian bawah hanya berjuang* dan *bergulat melawan kematian.* Ketika *kita mati tubuh hancur* dan *itu yang ditakuti otak,* sedangkan *jiwa tidaklah mati, jiwa bersifat ilahi* dan *abadi.* *Jiwa mengarahkan kita* pada *tujuan hidup* melalui *makna hidup kita.* Melalui *BHS Komunitas SKK* diharapkan *belajar lebih banyak dari atas,* yang *dalam semangat orang Kristen,* yang utama *_carilah dahulu Kerajaan Allah_* dan *_yang lain akan ditambahkan._* *Opa* melalui BHS *senantiasa mengajak Komunitas SKK* agar *belajar* dan *menghidupi informasi dari atas* yang *dibawa jiwa* dan *bukan sebaliknya informasi dari otak* yang *didapat dari bumi ini.* Karenanya *tepatlah motto SKK,* *_Corpus Sanum in Metem Sanam_* mengganti *_Men sana in corpore sano_* yang *telah membelokan manusia sekian lama.*
*Salam Sukacita.* 👍❤😀
Ditulis ulang oleh*TEAMBHSKOCARKACIRSKK.*
👍❤😀_Niko Boleng_
Comments
Post a Comment