Dalam *BHSO SKK Wilayah LEMBATA* kali ini *Opa mengutip ayat* dari *_Injil Lukas 6:41-42._* Kutipan ini berkisah ketika *Yesus menegur Kaum Farisi* dengan *pertanyaan retoris* mengapa *kamu melihat selumbar di mata saudaramu* sedangkan *_kamu mengabaikan balok di matamu sendiri._* *Opa menegaskan* bahwa *balok inilah* yang *menjadikan kita gagal mengelolah hidup secara baik.* Ketika *gagal mengelola hidup* maka *kita akan memanen berbagai kemalangan.* Kemalangan *menyata dalam berbagai wajah* seperti *sakit, rumah tangga tidak lagi damai, relasi yang rusak* dan *kenyataan minor* lainnya. *Opa* melalui *BHSO SKK LEMBATA dan sekitarnya* kali ini *membuka jalan agar kita terbebas dari berbagai* bentuk *‘balok’* yang *akan bermuara pada kegagalan mengelola hidup.* *Kita diajak* untuk *setia pada pola hidup ala SKK* sampai *memanen pembuktian* seperti kata pepatah *Fidelis Usque Ad Probationem* = *setia sampai terbukti.*
*MENGENALI BALOK DALAM DIRI*
*Selumbar* dan *balok* memang *sangat kontras dalam perbandingan.* Maka *seharusnya menjadi pancingan yang kuat pengaruhnya* untuk *kita beri perhatian lebih.* *Yesus mengajarkan pengikutNya* bahwa *balok besar akan terabaikan* jika *kita lebih melihat selumbar* atau *serpihan kayu kecil* pada *orang lain.* Kebanyakan *kita alpa mengelola balok besar penghambat kemajuan diri* karena *fokus pada serpihan kecil kayu dalam diri orang lain.* BHSO kali ini *Opa mengajak Komunitas SKK* untuk *mengenali balok besar dalam diri* yang *menjadi penghambat kita mengelola hidup.* (1). *Mengikuti saja tanpa bertanya pandangan umum dalam dunia kesehatan* seperti *ungkapan Hipokrates* tentang *makanlah makanan seperti obat* dan *makanlah obat seperti makanan.* Pandangan ini *menjadikan kita menerima saja model konsumsi obat* seperti *konsumsi makanan.* Ketika *makan 3 x sehari* maka *minum obat juga 3 x sehari,* ketika *kita ngemil* maka *kita juga menerima suplemen* seperti *kita ngemil makanan.* Kita *menerima saja sebagai benar.* Ini *terjadi karena kita membiarkan kesehatan kita dikelola oleh orang* atau *lembaga di luar diri kita.* Dengan *demikian dapat diterima* bahwa *orang sakit* adalah *orang yang gagal mengelola dirinya* dan *menyerahkannya pada yang di luar dirinya.* Akhirnya *Dunia bingung* dan *kita pun ikut tenggelam dalam kebingungan yang sama.* Untuk *satu jenis sakit* saja *bisa muncul berbagai jenis obat.* Ini sejatinya *gambaran kebingunan manusia* dan *dunia* tetapi *kebanyakan kita menerimanya saja.* *SKK* hadir *membawa kepastian* dan *mulai dari diterima menjadi Komunitas SKK* saat itulah *kesehatan menjadi tanggung jawab pribadi tergantung respon kita.* (2). *Mengikuti saja pandangan* *_men sana in corpore sano_* bahwa *_jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat._* Pandangan ini *merupakan arus besar* yang *didukung produksi makanan besar-besaran.* *Makanan* yang *katanya bernutrisi baik untuk kesehatan* hadir *dalam berbagai kampanye kesehatan seperti 4 sehat 5 sempurna.* Kampanye *ini benar-benar mengabaikan jiwa,* bahkan *menempatkan jiwa inferior* dari *tubuh.* Pandangan ini *telah membawa manusia pada kebingungan mengelola kesehatannya.* Katanya *makan bernutrisi lengkap mengapa sakit* dan *penyakit semakin merajalela.* Ketika *dulu orang tua kita* makan *di luar kampanye 4 sehat 5 sempurna lebih sehat* bahkan *berumur panjang* sementara *kita yang makan bernutrisi lengkap* justeru *memanen berbagai penyakit yang sulit dijelaskan.* Komunitas SKK *membalikan keadaan ini dengan arus baru* yang *fokus pada jiwa* dengan motto *_Corpus Sanum in Mentem Sanam,_* *di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat* dan *bukan sebaliknya.* (3). *Menghidupi jebakan pola hidup biar miskin asal sombong.* Kita *tidak boleh menganggap remeh ungkapan ini* yang *seolah tidak ada pengaruhnya bagi hidup.* Justeru *semangat hidup seperti ini* telah *membawa penderitaan bagi kita Masyarakat NTT pada umumnya.* *Kita bisa* dan *berani berhutang besar* hanya *untuk mengadakan pesta* akhirnya *kita terus tenggelam dalam kemiskinan* dan *akhirnya hal yang pokok dalam hidup* seperti *pendidikan, kesehatan* dan *hal lain terabaikan.* Kebanyakan *kita akhirnya lelah* menghadapi *kenyataan hidup, menjadi malas, tidak kreatif, terus menjadi miskin* tetapi *rela menggali lubang tutup lubang* hanya *untuk membiayai kesombongan, biar miskin asal sombong.* Komunitas *SKK hadir dengan mengubah pola hidup yang salah* agar *hidup benar-benar hidup* sebagaimana *yang dirancangkan Tuhan bagi kita.*
*FIDELIS USQUE AD PROBATIONEM* = *SETIA SAMPAI TERBUKTI*
*Komunitas SKK* melalui *Bimbingan Hidup Sehat* baik *online maupun offline* menghadirkan *semangat hidup baru* dengan *menomorSATUkan jiwa.* Motto SKK *_Corpus Sanum in Mentem Sanam_* menjiwai *semangat SKK dalam mengelola hidup.* *Balok* dalam diri *akan dengan sendirinya hilang* jika *kita bertekun dalam mengelola jiwa.* Dan *jika terus bertekun kita akan membuktikannya sendiri* bagaimana *dahsyatnya perubahan hidup* sebagaimana *yang kita dengar melalui testimoni* anggota *SKK lama.* Saatnya *kita meninggalkan semangat menafkahi tubuh secara berlebihan* dan *mulai bertekun dalam menutrisi jiwa.* Menafkahi tubuh *bagi kita saat ini caranya sudah pasti* dengan *menghindari racun tubuh* dan *hidup dengan pola makan sekali sehari* yang *kita kenal dengan autophagy.* *Sakit* dan *penderitaan* yang *kita alami sekarang* adalah *undangan* untuk *masuk dalam semangat hidup baru* yang *ditawarkan Allah* melalui *berkat Bimbingan Hidup Sehat* bersama *Opa* dalam *Komunitas SKK.* Pasti *kita bertanya makanan jiwa itu bagaimana modelnya* dan *jawabannya* sederhana, *makanan jiwa itu* adalah *semua perbuatan baik.* *Berbuat baik* bagi *diri, alam* dan *sesama* yang *sama artinya* dengan *berbuat baik kepada Tuhan.* Bagi *umat kristiani kita bisa melatih diri* dan *mengukur sejauh mana perbuatan baik kita* melalui *Sembilan buah Roh.* Bisa dibaca pada *_Galatia 5:22-23,_* *kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,* dan *penguasaan diri.* Setiap hari *bisa kita ukur sejauh mana kasih kita* bagi *diri, alam* dan *sesama,* juga *kita bisa bertanya diri* sejauh mana *kesabaran, kebaikan, sukacita saya bagi diri, alam* dan *sesama.* *Opa mengajak kita* untuk *terus bertekun dalam kesetiaan pada pola hidup ini.* Mari *bersama Komunitas SKK berjuang* untuk *setia sampai terbukti.* Ingatlah semangat ini selalu *_FIDELIS USQUE AD PROBATIONEM, Setialah sampai terbukti._*
*Salam Sukacita.* 👍❤😀
Porat Antonius
Dirangkum okeh
*TEAMBHSKOCARKACIRSKK.*
👍❤😀
_Niko Boleng_
Comments
Post a Comment