Secara fisik anak-anak SKK sudah memanen hidup sehat. Tugas selanjutnya sebagai orang tua adalah menghadirkan cahaya nilai SKK ke dalam hidup anak-anak kita. Ini perlu menjadi perhatian utama para orang tua dalam Komunitas SKK. Berikut beberapa nilai penting yang perlu ditanamkan sejak dini.
ANAK BUKAN OBJEK AJAR MELAINKAN SUBJEK BELAJAR
Disadari atau tidak kebanyakan kita sebagai orang tua menempatkan anak-anak kita sebagai objek yang harus terus dijejali dengan berbagai ajaran dan nasehat. Kita sering menempatkan anak sebagai orang yang belum tahu apa-apa. Kita kurang memberi ruang belajar bagi anak, padahal ruang itu sangat diperlukan anak agar belajar nilai-nilai luhur sejak kecil. Sebagai orang tua kita perlu membangun sikap yang tepat agar ruang belajar bagi anak-anak kita tetap terjaga baik. (1) Ketika anak berbuat salah, sikap orang tua yang tepat adalah menunjukan hal baik dan benar. Kebanyakan orang tua lebih fokus pada kesalahan anak. Sikap ini menjadikan anak tidak sanggup melihat nilai lain selain meratapi kesalahannya. Ruang belajar melihat nilai lain tertutup dengan sikap orang tua yang terlalu menitikberatkan perhatian pada kesalahan anak. Menegur itu bukan menunjuk yang salah tetapi menunjuk yang baik dan benar yang seharusnya. Dengan demikian kita menyediakan ruang belajar bagi anak agar menemukan sendiri nilai baik lain sebagai ganti nilai yang salah. Nilai baik yang anak temukan sendiri menuntunnya menyadari kesalahannya dan menjadikannya terus berubah dan bertumbuh. (2) Mengubah orang apalagi anak tidak boleh disertai dengan harapan bahkan paksaan untuk segera melihat hasilnya. Yang kita sampaikan sekarang bisa jadi sepuluh tahun lagi baru kita lihat dan panen hasilnya. Apa yang kita sampaikan sekarang lebih dominan tentang masa depan anak-anak. Sesungguhnya masa depan ini sudah kita capai dan lalui sedangkan bagi mereka belum waktunya. Kita sebaiknya benar-benar bersabar menuggu waktu mereka sampai pada masa depan yang sudah kita lalui dan di saat itulah baru terlihat buahnya. Bisa jadi 10 tahun atau lebih, hanya perlu kita bersabar menunggu saat perubahan itu tiba. (3) Memberi ruang kepercayaan kepada anak. Kepercayaan diri sering kita latih dan bahkan diberi kursus. Padahal bagi Opa kepercayaan diri itu diperoleh dengan mengisi hidup dalam kebaikan. Mengisi hidup dengan hal-hal baik akan dengan sendirinya melahirkan kepercayaan diri. Ketika otak diisi dengan kebaikan yang ditimbah dari membaca, dari belajar pada orang tua dan berbagai ruang baik lainnya terlebih dalam rumah maka pengetahuan dan hal baik itu bahkan tersimpan rapih di alam bawah sadar yang akan muncul pada waktu yang tepat terlebih ketika dibutuhkan. Ketika sudah melengkapi diri dengan berbagai hal baik maka kepercayaan diri akan lahir. Kepercayaan diri ini juga akan menghadirkan kepercayaan dari orang lain bahkan terlebih dari Tuhan. (4) Memberi ruang dan kesempatan pada anak untuk belajar mengatur, mengontrol, disiplin, taat hukum dan mengendalikan orang lain. Ini menjadi ruang dan waktu yang baik untuk melatih kepemimpinan sejak dini. Hampir di seluruh dunia tidak kita dapatkan pemimpin berkualitas karena tidak ada pengalaman kepemimpinan dari rumah. Semua terjadi ketika menjadi pemimpin setelah dewasa dan pada saat itu dia baru belajar memimpin. Padahal kita bisa lakukan sejak dini di rumah. Opa menegaskan Komunitas SKK harus bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas dan ini dipersiapkan sejak dini di keluarga. Ada pengalaman menarik dan penting ini didapat ketika Opa membuat kesepakatan dengan anak-anak TDM perihal makan. Opa dengan tahu dan mau melanggar kesepakatan dan terlihat sekali bagaimana anak-anak TDM bereaksi yang menunjukan bagaimana mereka pertumbuh dalam semangat kepemimpinan dengan menertibkan Opa dan mengatur agar tidak ada lagi yang melanggar kesepakatan. Mereka dilatih melahirkan gagasan, mengeksekusi dan mengontrol. Itulah leadership. Orang tua harus belajar mengikuti pola ini. (5) Menumbuhkan kepedulian sejak dini juga menjadi bagian penting menularkan cahaya nilai SKK pada anak. Dan kesempatan paling berharga adalah di rumah. Ada bahayanya jika anak terlalu dibiarkan dengan berbagai kegiatan di luar rumah, entah itu pengembangan bakat, pelajaran atau keahlian lainnya. Anak akhirnya lebih sering dengan orang lain dari pada dengan orang tua. Kondisi ini akan terlihat ketika dia dewasa. Dia tidak akan peduli dengan orang tua apalagi dengan yang lainnya di rumah. Dia akan sangat peduli dengan hal-hal lain karena sudah tertanam sejak dini. Jangan heran ketika tua orang tua dititipkan di panti jompoh karena ketika orang tua sibuk saat itu anak-anak ditiitipkan dalam pengasuhan orang lain di tempat penitipan anak misalnya. Opa menegaskan agar orang tua SKK harus menghadirkan kasih, kepedulian dan menyediakan waktu mendengarkan anak-anak. Pengalaman dan pengetahuan ini akan masuk ke alam bawah sadar dan akan muncul tepat pada saat kita butuhkan.
Berita menariknya ketika Opa menyampaikan bahwa cahaya nilai SKK telah menjangkau anak-anak SKK. Mereka tidak saja sehat secara fisik tetapi sudah memancarkan nilai-nilai SKK. Anak-anak SKK itu terbuka, fair, dan berani mengemukakan pikirannya. Cahaya ini akan terus bernyala jika orang tua terus menerima anak sebagai subjek belajar bukan objek untuk diajar.
Salam Sukacita 👍❤😀
Dirangkum olehTEAMBHSKOCARKACIRSKK. By Niko Boleng
Comments
Post a Comment