Skip to main content

BELAJAR DARI PENGALAMAN NDE (NEAR-DEATH EXPERIENCE) - BHS TDM 29 Januari 2026


*Near-Death Experience (NDE)* adalah *pengalaman mendekati kematian* atau *lebih kita kenal* dengan istilah *mati suri.* Kondisi ini *biasanya dialami ketika orang* dalam *kondisi kritis, sekarat,* atau *mati klinis.* Sore ini *Opa mengajak Komunitas SKK* agar *belajar dari pengalaman orang yang pernah mengalami NDE* atau *mati suri* agar *lebih memaknai hidup.*    

*HIDUP MENURUT PENGALAMAN ORANG MATI SURI*

Sudah *banyak buku yang menuliskan kisah orang mengalami* peristiwa *Near-death experience (NDE)* atau *mati suri.* Opa menegaskan *tujuan kita membaca kisah seperti ini* karena *sudah saatnya memberi perHATIan lebih* pada *jiwa.* Selama ini *sebagian besar kita mencurahkan hampir seluruh hidup kita* hanya *berfokus pada tubuh.* Sebagaimana sejauh ini *moto men sana in corpore sano* mengubah *pola hidup dunia* dengan *menitikberatkan pada sehat tubuh,* komunitas *SKK pun seharusnya* menjadikan *Corpus Sanum in Mentem Sanam* menjadi *arus perubahan baru* yang *memberi perHATIan* pada *kesehatan jiwa.* Meskipun *Corpus sanum in mentem sanam* baru *berusia 19 tahun* tetapi *pengaruhnya sudah mulai terasa* dalam *komunitas SKK* dan *sudah terlihat juga pengaruhnya ke dunia sekitar kita.* *Kedua adagium latin* ini *sebenarnya menyiratkan pengakuan* bahwa *manusia terdiri dari tidak hanya tubuh* melainkan juga *jiwa.* Kita *disebut manusia* karena *hadirnya kedua entitas ini.* Jika  *jiwa keluar dari tubuh* maka *tubuh menjadi mayat.* Yang *membuat kita hidup itu* adalah *jiwa* dan *karenanya perhatian kepada jiwa* haruslah *jauh lebih intens.* Dalam *buku Opa yang akan terbit nanti akan diulas* bahwa yang menyebabkan *kita hidup* adalah *hidup itu.* *Hidup itu* yang *membuat kita hidup.* Pengalaman *keseharian kita sebenarnya* sudah *terjadi kematian kecil-kecil* seperti *malas, bodoh, tidak percaya diri, takut, cemas,* dan *brain rot.* Ini *kematian kecil* yang *belum memisahkan kita dari hidup.* Kita *bisa belajar banyak dari yang pernah mati suri* agar *kita bisa bebas dari kematian kecil dalam hidup* dan *terus menutrisi jiwa* sebagai *fokus utama hidup kita.*

Kembali ke *kisah NDE,* dalam *banyak kisah mati suri (NDE)* umumnya *terjadi peristiwa Out of Body Experience (OBE)* yaitu *jiwa keluar dari tubuh.* *Jiwa* orang tersebut *terbang* atau *keluar dari tubuhnya* dan *menyaksikan semua yang terjadi* termasuk *menyaksikan tubuhnya sendiri dari atas.* *Jiwa terbang* menyusuri *terowongan, melihat cahaya sangat terang, merasa sangat damai* dan *berkesempatan meninjau kembali video kehidupan masa lalu.* Peristiwa *ini banyak mengubah kepribadian* dan *pandangannya terhadap hidup secara drastis.* *Jiwa keluar* dari *tubuh tetapi tidak mati* karena *jiwa menjumpai sumber hidup.* Oleh karena itu *orang yang mengalaminya* mereka *sebenarnya pergi untuk mendapatkan hidup* yang *lebih bercahaya* dari *sumber hidup.* *Mereka keluar* dari *lorong kegelapan* menuju ke *terowongan cahaya hidup.* Setelah *bercahaya itulah* mereka *berjumpa dengan sanak keluarga* yang *sudah berbahagia,* dan *mungkin para malaikat.* Kemudian *mereka kembali,* dan *saat kembali cahaya hidup* yang *mereka terima dari sumber hidup* itu *bernar-benar bercahaya dalam hidupnya.* *Cahaya hidup yang baru* menghilangkan *semua rasa takut, cemas* dan *kematian kecil* lainnya. *Mereka* akhirnya *benar-benar hidup menurut ukuran cahaya* yang *mereka terima.* Yang *telah melalui pengalaman NDE* biasanya *mengarahkan hidup pada peningakatan kualitas hidup spiritual*  dan *fokus pada perbuatan baik* untuk *nutrisi jiwa.* Biasanya *perhatian pada tubuh* atau *materi tidak lagi menjadi tujuan hidupnya.* *Jiwa* menjadi *pusat perhatian* sehingga *hidupnya lebih bercahaya, lebih bermakna,* hidupnya *terus berorientasi pada cahaya* dari *sumber hidup yang telah dialaminya.* *Fokus pada jiwa* yang *dihadirkan oleh mereka* yang *mengalami NDE inilah yang perlu kita timba.* Mereka *bahkan tidak lagi takut mati* karena *telah mengalami sukacitanya hidup ilahi itu.*  Jadi *kita tidak perlu mati suri dulu* agar *bisa menutrisi jiwa,* kita *mengambil sari hidup* dari *yang pernah mati suri* agar *hidup kita mengandung sari hidup* untuk *tujuan hidup sesungguhnya.*  Dengan *cara hidup seperti* ini *kita menjadi sungguh-sungguh hidup* sejak *dari dunia* ini *tanpa perlu melalui peristiwa NDE.*
Salam Sukacita 👍❤😀
Anton Porat

*TEAMBHSKOCARKACIRSKK.*
 👍❤😀
By
_Niko Boleng_

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

Hidup Dalam Perspektif Allah

Cuplikan dari Buku Eksegese Orang Jalanan  Karya  Porat Antonius Minggu Hari Raya Pentakosta, Tahun A Sense of belonging merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia. Sense of belonging tidak sama dengan to have. Sense of belonging lebih dari to have. Memiliki sense of belonging ada kepenuhan yang berarti juga ada kepuasan. Sementara to have berhubungan dg memiliki tetapi belum mencapai kepenuhan apalagi kepuasan. Yang dipaparkan dalam ketiga bacaan minggu Pentakosta ini adalah gambaran tentang hidup dengan sense of belonging. Yaitu menggambarkan tawaran Allah untuk manusia. Allah menawarkan kepenuhan hidup kepada manusia. Allah juga menawarkan jalan menuju kepenuhan hidup itu yakni melalui beriman kepada Yesus, mendengarkan firman Nya dan melakukan kehendak Nya. Semua ini bukan untuk Yesus melainkan untuk manusia. Manusia lah yang mengalami kepenuhan. Dari sudut pandang ketiga bacaan, masalah yang ada pada manusia itu terletak pada hidup yang tidak berdasarkan...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...