Skip to main content

Bertobat Berarti Melupakan - Hari Minggu Pra-Paskah ke-5 Tahun Liturgi C

Dalam ketiga bacaan minggu ini disampaikan bahwa masa lalu itu membuat manusia mati kutu.  Sebagai contoh kalau masa lalunya mempunyai pengalaman cemerlang, maka orang beriman cenderung berpuas diri atau lupa menciptakan kecemerlangan baru. Kalau masa lalunya menderita maka masa sekarang diisi dengan -berkeluh-kesah tentang masa lalu juga. Berkeluh kesah tentang kesulitan yang dihadapi sekarang ini. Akhirnya orang mati kutu. Sementara peluang berkarya dan peluang hidup masih luas terbentang di hadapannya.

Sama persis situasinya dalam hubungan dengan memaafkan diri dan orang lain. Hubungan selalu tidak enak antara satu dengan yang lain karena mengingat-ingat perbuatan jelek masa lalunya. Yang lalu dibawa-bawa untuk menghakimi masa sekarang dan masa depan. Saat anda  ingin menyapa dan berbuat baik tetapi .....eh masih sakit hati. Akhirnya sumbu kebaikan tidak menyala dan yang terjadi berkubang dalam kedengkian yang ujung-ujungnya kehilangan kasih.

Jadi bertobat itu itu sesuai bacaan di atas berarti melupakan,  dan itulah jalan kasih. Ketika tidak melupakan yang hadir di depan hanyalah masa lalu. Jadi ibarat berjalan ke belakang. Yang benar adalah harus berjalan ke depan bukan membelakangi. Di depan itu adalah jalan kasih sehingga jika  tidak melupakan masa lalu akhirnya orang gagal membina kasih kini dan kedepan. Bertobatlah! Lupakanlah!


Cuplikan dari Buku  Eksegese Orang Jalanan karya Porat Antonius 

Lebih lengkap lagi dapat dibaca di Buku Eksegese Orang Jalanan Tahun Liturgi C, Buku Jilid 2

 

_edian_

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

Hidup Dalam Perspektif Allah

Cuplikan dari Buku Eksegese Orang Jalanan  Karya  Porat Antonius Minggu Hari Raya Pentakosta, Tahun A Sense of belonging merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia. Sense of belonging tidak sama dengan to have. Sense of belonging lebih dari to have. Memiliki sense of belonging ada kepenuhan yang berarti juga ada kepuasan. Sementara to have berhubungan dg memiliki tetapi belum mencapai kepenuhan apalagi kepuasan. Yang dipaparkan dalam ketiga bacaan minggu Pentakosta ini adalah gambaran tentang hidup dengan sense of belonging. Yaitu menggambarkan tawaran Allah untuk manusia. Allah menawarkan kepenuhan hidup kepada manusia. Allah juga menawarkan jalan menuju kepenuhan hidup itu yakni melalui beriman kepada Yesus, mendengarkan firman Nya dan melakukan kehendak Nya. Semua ini bukan untuk Yesus melainkan untuk manusia. Manusia lah yang mengalami kepenuhan. Dari sudut pandang ketiga bacaan, masalah yang ada pada manusia itu terletak pada hidup yang tidak berdasarkan...