Skip to main content

SIAPA KITA DAN APA TUGAS KITA - BHSO KLATEN 19 JUN 2021

Oleh : Porat Antonius dan Elisa R

  Dimanakah anda?
Apakah orang bodoh, setengah pintar atau orang pintar?

Ciri_Ciri;
a. Orang bodoh biasanya selalu menyibukan diri dan menggunakan waktu hidupnya dalam sehari untuk menceritakan masalah hidupnya sendiri, masalah hidup sesama, masalah dalam lingkungan dan lain sebagainya.

b. Lalu orang setengah pintar atau merasa diri pintar selalu suka mengeritik orang lain, mencela orang lain, gossip tentang orang lain dan senang dengan kesulitan atau penderitaan orang lain.

c. Sementara orang pintar tidak ada waktu untuk mengeluh, mengeritik dan melihar kelemahan orang lain. Ia hanya memiliki waktu untuk melakukan hal-hal yang baik pada setiap waktu yang ada padanya. Ia sibuk menggunakan waktunya untuk menunjukkan kebaikan kepada dunia lingkungan hidupnya sendiri.

Sebagai orang pintar, kita harus menggunakan waktu sebanyak mungkin untuk bekerja, untuk berkarya. Orang yang selalu menggunakan waktunya untuk berbuat baik, berkarya atau bekerja pasti akan sukses.

Sebagai orang pintar, kita hanya menggunakan kata-kata yang ada pada kita untuk menyampaikan kabar baik kepada orang lain, bukan sebaliknya.

2.    Autophagy, Menghindari Racun dan Merawat Bumi

Saat kita menghindari racun tubuh kita, atau saat kita menjalani hidup autophagy, pada saat yang sama kita tidak hanya peduli pada kesehatan tubuh kita secara pribadi, namun lebih dari itu, kita sedang memelihara bumi.

Kita harus bangga karena kita dipanggil dan dipilih untuk menyelamatkan bumi melalui hidup sederhana; menghindari racun dan menjalani autophagy. Dengan hidup sederhana seperti itu, kita sedang melakukan sebuah perbuatan besar yakni menyelamatkan kehidupan. Dengan menyelamatkan kehidupan kita menjadi homo deus. Dengan menjadi homo deus kita menjadi lebih dekat dengan Allah.

TEAM BHSO KOCARKACIR

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

Hidup Dalam Perspektif Allah

Cuplikan dari Buku Eksegese Orang Jalanan  Karya  Porat Antonius Minggu Hari Raya Pentakosta, Tahun A Sense of belonging merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia. Sense of belonging tidak sama dengan to have. Sense of belonging lebih dari to have. Memiliki sense of belonging ada kepenuhan yang berarti juga ada kepuasan. Sementara to have berhubungan dg memiliki tetapi belum mencapai kepenuhan apalagi kepuasan. Yang dipaparkan dalam ketiga bacaan minggu Pentakosta ini adalah gambaran tentang hidup dengan sense of belonging. Yaitu menggambarkan tawaran Allah untuk manusia. Allah menawarkan kepenuhan hidup kepada manusia. Allah juga menawarkan jalan menuju kepenuhan hidup itu yakni melalui beriman kepada Yesus, mendengarkan firman Nya dan melakukan kehendak Nya. Semua ini bukan untuk Yesus melainkan untuk manusia. Manusia lah yang mengalami kepenuhan. Dari sudut pandang ketiga bacaan, masalah yang ada pada manusia itu terletak pada hidup yang tidak berdasarkan...