Skip to main content

JEBAKAN KESOMBONGAN SPIRITUAL vs HIDUP UNTUK MENGHIDUPI - SEMARANG - 27 Okt 2025

Setiap detik adalah hujan inspirasi untuk hidup jika bersama Opa. Demikianpun di saat menunggu keberangkatan kembali ke Kupang sambil ditemani Kopi dan kebersamaan SKK Semarang yang luar biasa rahmat itu terus menghujani kami melalui dan dalam detik-detik kebersamaan. Singkatnya waktu kebersamaan tidak pernah mampu mempersingkat rahmat. Rahmat tetap dalam keutuhannya. 


JEBAKAN KESOMBONGAN SPIRITUAL.


Banyak kita mengukur spiritualitas kita dengan mengunjungi tempat ziarah bersejarah seperti Lourdes misalnya. Sesungguhnya berziarah ke tempat bersejarah secara rohani bukanlah sebuah kesalahan. Yang sering terjadi tanpa kita sadari adalah jebakan kesombongan yang disisipkan setan. Cerita kita mungkin saja awalnya bertujuan menginspirasi sesama tetapi tanpa sadar kita tergelincir pada kesombongan rohani. Cerita kita malah bisa berimbas sebaliknya. Sesama yang mendengar kisah kita bisa malah terbebani bahwa kami tidak mungkin bisa ke sana karena kehidupan ekonomi yang tidak memungkinkan. Lebih parahnya lagi jika mereka sampai pada kesimpulan bahwa kondisi miskinnya karena ketiadaan rahmat untuk mereka, ketiadaan rahmat yang membuat mereka tetap miskin. Jika demikian maka kisah ziarah kita malah menghambat sesama bertumbuh dalam iman. Jika tidak berhati-hati kita terpeleset pada kesombongan rohani melalui ziarah rohani kita. Kita lebih bercerita tentang wisata rohani berujung jebakan dan bukan ziarah rohani untuk pertumbuhan rohani. Boleh-boleh saja Berziarah tetapi yang lebih penting adalah menghidupi rahmat rohani dari ziarah rohani dalam keseharian kita. 


HIDUP UNTUK MENGHIDUPKAN ORANG LAIN.


Selama ini Opa sering mengingatkan kita bahwa  makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan. Istimewahnya di Semarang untuk pertama kalinya Opa menyampaikan bahwa yang lebih tinggi level dari hidup adalah hidup untuk menghidupkan orang lain. Inilah sejatinya misi ziarah kita, inilah misi kebersamaan SKK kita dan inilah misi hidup kita. Menurut Opa bahwa Pelayanan disemarang sangat potensial untuk mengajak semakin banyak orang mengalami Allah melalui meng-alam-i alam. Inilah hidup yang menghidupkan itu. Opa yang terus mengalirkan inspirasi hidup dalam setiap kesempatan dan Anggota SKK yang bertumbuh dalam setiap inspirasi dari Opa menjadi contoh nyata filosofi ini.  Komunitas SKK terus didorong dalam kebersamaan untuk menghidupi filosofi hidup ini, HIDUP UNTUK MENGHIDUPKAN. Saudara dan sesama kita Etnis China dari muda sudah diberi semangat dan motivasi kuat untuk menjadi kaya mereka berjuang sungguh-sungguh untuk menjadi kaya. Hal ini seharusnya menarik untuk kita yang lain tetapi misi hidup seperti ini lebih bernilai ketika dengan kekayaan kita kita bisa menghidupkan orang lain. Kita bisa mulai dari keluarga kita menjadi suami yang menghidupkan istri dan anak-anak dan sebaliknya. Jika masih ada kelebihan maka kita masih bisa berguna bagi sesama dengan menghidupakan mereka dalam berbagai cara dan bentuknya. Hal ini bisa dilatih melalu pertanyaan  reflektif hidup bukan untuk apa tetapi bertanyalah HIDUP UNTUK SIAPA. Mari terus bertumbuh bersama dalam filosofi ini "HIDUP UNTUK MENGHIDUPKAN." Salam Sukacita 😍


PORAT ANTONIUS



#TEAMBHSKOCARKACIRSKK by Niko Boleng.

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

Hidup Dalam Perspektif Allah

Cuplikan dari Buku Eksegese Orang Jalanan  Karya  Porat Antonius Minggu Hari Raya Pentakosta, Tahun A Sense of belonging merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia. Sense of belonging tidak sama dengan to have. Sense of belonging lebih dari to have. Memiliki sense of belonging ada kepenuhan yang berarti juga ada kepuasan. Sementara to have berhubungan dg memiliki tetapi belum mencapai kepenuhan apalagi kepuasan. Yang dipaparkan dalam ketiga bacaan minggu Pentakosta ini adalah gambaran tentang hidup dengan sense of belonging. Yaitu menggambarkan tawaran Allah untuk manusia. Allah menawarkan kepenuhan hidup kepada manusia. Allah juga menawarkan jalan menuju kepenuhan hidup itu yakni melalui beriman kepada Yesus, mendengarkan firman Nya dan melakukan kehendak Nya. Semua ini bukan untuk Yesus melainkan untuk manusia. Manusia lah yang mengalami kepenuhan. Dari sudut pandang ketiga bacaan, masalah yang ada pada manusia itu terletak pada hidup yang tidak berdasarkan...