Skip to main content

IMAGO DEI DAN BAHASA - BHS Bali Teras Rumah - 11 Oktober 2025

 Opa mengawali pagi ini dengan pesan yang cukup serius tetapi selalu dengan gaya yang unik dan enak dinikmati. Opa mendasari pesan penting pagi ini dari kutipan Injil Yoh 1:1-2 yang berbunyi: Pada mulanya adalah Firman: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Sabda dalam Kisah penciptaan pun semuanya dengan Sabda. Kata atau Sabda menjadi anugerah istimewah. Berikut Opa akan menjelaskan bagaimana seharusnya kita ber-KATA.  


KATA/BAHASA BERENERGI MENCIPTA.


Kata itu bukan tanpa energi. Justru Kata atau Bahasa itu berenergi mencipta. Itulah yang terjadi pada kisah penciptaan. Allah bersabda dan terciptalah semuanya. Allah menciptakan manusia juga dengan dan melalui sabda. Melalui Sabda Allah terciptalah manusia sebagai gambar atau citra Allah yang kita kenal sebagai Imago Dei. Dari dasar inilah kita bisa katakan bahwa pada bahasa manusia sebagai Imago Dei ada potensi mencipta. Potensi mencipta sangat potensial terlebih mencipta dalam hal-hal baik. Bahkan tindakan itu bercahaya jika kita hidup betul-betul menampakkan diri sebagai Citra Allah. Tidak perlu juga memikirkan tindakan yang besar, ketika kita hanya bisa memiliki energi untuk satu tindakan mencipta yang kecil, buatlah itu untuk menampakan Citra Allah dalam diri. Cahaya kata atau bahasa sebagai anugerah istimewah dari Allah ini akan menjadi sangat kuat terlebih pada para pemimpin atau pemuka agama. Mereka sudah mendapatkan otoritas karena rahmat khusus yang diterimanya. Kata atau bahasa dari yang memiliki otoritas ini berenergi sangat kuat mengubah. Energi bahasa salah satunya terlihat pada ungkapan Latin yang berbunyi Nomen est Omen, Nama adalah Tanda.  Penjelasan Opa akhirnya menggeser ungkapan ini karena ada nilai baru menjadi Nomen est Imago Dei atau Nomen est Similitudo Dei. Kata atau Bahasa kita hendaknya menjadi cahaya yang menandai kita sebagai Imago Dei.  

PORAT ANTONIUS



TEAMBHSKOCARKACIRSKK.

Niko Boleng.

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

Hidup Dalam Perspektif Allah

Cuplikan dari Buku Eksegese Orang Jalanan  Karya  Porat Antonius Minggu Hari Raya Pentakosta, Tahun A Sense of belonging merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia. Sense of belonging tidak sama dengan to have. Sense of belonging lebih dari to have. Memiliki sense of belonging ada kepenuhan yang berarti juga ada kepuasan. Sementara to have berhubungan dg memiliki tetapi belum mencapai kepenuhan apalagi kepuasan. Yang dipaparkan dalam ketiga bacaan minggu Pentakosta ini adalah gambaran tentang hidup dengan sense of belonging. Yaitu menggambarkan tawaran Allah untuk manusia. Allah menawarkan kepenuhan hidup kepada manusia. Allah juga menawarkan jalan menuju kepenuhan hidup itu yakni melalui beriman kepada Yesus, mendengarkan firman Nya dan melakukan kehendak Nya. Semua ini bukan untuk Yesus melainkan untuk manusia. Manusia lah yang mengalami kepenuhan. Dari sudut pandang ketiga bacaan, masalah yang ada pada manusia itu terletak pada hidup yang tidak berdasarkan...