Skip to main content

Kesetiaan : Satu Bentuk Tobat Dalam Kasih- Eksegese Minggu prapaskah ke-3 tahun C

Bacaan pada Minggu ini dengan tegas menggambarkan bahwa Allah itu mengasihi manusia. Allah setia dalam kasih dan setia memupuk kasih itu dengan sabar, supaya kasih itu berbuah pada manusia dan buahnya itu juga untuk manusia. Penderitaan atau kematian yang digambarkan pada bacaan Injil bukan karena Allah tidak setia dalam kasih. Penderitaan yang digambarkan itu merupakan buah dari tindakan manusia menolak kasih Allah atau tindakan manusia yang lain yang merasa berkuasa atau merasa memiliki kuasa lebih dari Allah.

Berkaitan dengan masa pertobatan ketiga bacaan menggambarkan kepada umat beriman tentang Allah dan tentang manusia secara serempak. Kasih diberikan kepada manusia supaya kasih pada manusia itu lebih besar atau sebagai wadah penyalur kasih Allah untuk membebaskan orang lain terutama membebaskan orang yang tidak memiliki kasih yang cukup untuk membebaskan dirinya sendiri.

Setialah kepada Allah, setia pada kasih : Itulah salah satu bentuk pertobatan. Dengan setia pada Allah dengan sendirinya menutup peluang dan ruang bagi setia pada kejahatan atau kesombongan. Sebaliknya yang setia pada kejahatan dan kesombongan bisa meredupkan kasih Allah. Tetapi segelap apapun gelap, tidak mungkin menghalau terang sekecil apapun terang itu. Terang kasih Allah tetap menyala pada manusia segelap apapun manusia itu. Yang penting bertobat dengan cara mulai mengikuti terang itu. Terang itu adalah kasih. Terang itu senyum. Terang itu rajin. Terang itu sabar. Terang itu setia. Terang itu tidak memegahkan diri dan seterusnya. Yang selalu tersenyum tidak memberi ruang untuk merengut yang merupakan dosa. Yang rajin hanya sedikit memberi ruang untuk malas yang merupakan dosa. Yang sabar akan tidak tahu marah itu seperti apa, marah merupakan dosa. Yang rendah hati tidak memberi ruang kepada yang sombong yang merupakan dosa dan seterusnya. Ikutilah terang itu sekecil apapun terang itu dengan cara menimba terang dari Allah. Allah akan tanpa kita sadari terus menambahkannya supaya pada waktunya hanya terang itu yang menguasai hidup kita. Itulah tobat. Yang penting mulai bukan akhir. Yang akhir itu cuma satu dari yang mendahuluinya.


Cuplikan dari Buku  Eksegese Orang Jalanan,  karya Porat Antonius 

Lebih lengkap lagi dapat dibaca di Buku Eksegese Orang Jalanan Tahun Liturgi C, Buku Jilid 2

 

_edian_

Comments

Popular posts from this blog

DAMAI itu DAM – AI (I in English) - BHS Klaten (Part2) - 25 Mei 2025

Apakah Damai ada padamu? Pertanyaan renungan Opa mengawali aktivitas ngopi pagi di BHS SKK Klaten. Pertanyaan ini memperlihatkan pentingnya damai yang pasti sudah sangat sering didengar baik dari mimbar agama maupun mimbar kehidupan lainnya. Damai memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita baik sebagai pribadi dalam keluarga, komunitas keagamaan maupun komunitas social dan komunitas kategorial lainnya. Kali ini Opa menjelaskan damai dari dan dalam ritus agama dan terlebih pada ritus kehidupan.  DAMAI DALAM RITUS HIDUP. Ritus keagamaan bagi banyak dari kita sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Meskipun demikian ritus agama terbatas. Ritus yang tidak terbatas justru ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sendirian pun ritus hidup tetap berlangsung.  RITUS DAMAI DALAM BERPIKIR. Ketika berpikir ritus hidup tetap terjadi, saat itu kita bisa memandang ke dalam diri , apakah dalam berpikir damai ada dalam pikiranmu. Kalau pikiranmu berisi kecemasan maka kedamaian tida...

TEMPUS ET SPATIUM ATAU SPACE AND TIME - BHS Klaten (Part 1) - 24 Mei 2025

Satu Kebenaran yang diakui dan diterima oleh semua pemikir dari dahulu kala adalah Tempus dan spatium. Kedua hal ini bahkan diterima sebagai Rahmat tertua dan karenanya diterima sebagai kebenaran tertua hingga sekarang. Spatium dan Tempus atau space and time adalah dasar dari segenap kebenaran lain karena seluruh peristiwa hidup yang lain terjadi di atas space and time. Dengan kata lain space dan time adalah fondasi seluruh kebenaran tentang manusia. Siapa yang menggunakan space dan time sesuai  dengan hakekatnya sebagai dasar maka dia hidup. Manusia sudah cukup berhasil menggunakan space. Dia membagi space sesuai fungsinya walaupun amburadul. Jika kita berhenti pada kelihaian membagi space maka kita baru masuk ke Sebagian kecil dari Rahmat. Rahmat yang terbesar ada pada time/tempus.  TEMPUS, NON SPATIUM, GRATIA EST.  Karena Rahmat terbesar ada pada tempus maka kita paham bahwa Tempus, non spatium, gratia est atau sering disingkat Tempus Gratia Est – Waktu adalah Rahmat. ...

Hidup Dalam Perspektif Allah

Cuplikan dari Buku Eksegese Orang Jalanan  Karya  Porat Antonius Minggu Hari Raya Pentakosta, Tahun A Sense of belonging merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia. Sense of belonging tidak sama dengan to have. Sense of belonging lebih dari to have. Memiliki sense of belonging ada kepenuhan yang berarti juga ada kepuasan. Sementara to have berhubungan dg memiliki tetapi belum mencapai kepenuhan apalagi kepuasan. Yang dipaparkan dalam ketiga bacaan minggu Pentakosta ini adalah gambaran tentang hidup dengan sense of belonging. Yaitu menggambarkan tawaran Allah untuk manusia. Allah menawarkan kepenuhan hidup kepada manusia. Allah juga menawarkan jalan menuju kepenuhan hidup itu yakni melalui beriman kepada Yesus, mendengarkan firman Nya dan melakukan kehendak Nya. Semua ini bukan untuk Yesus melainkan untuk manusia. Manusia lah yang mengalami kepenuhan. Dari sudut pandang ketiga bacaan, masalah yang ada pada manusia itu terletak pada hidup yang tidak berdasarkan...